1 May 2010

Blitar "Kutho Cilik sing Kawentar"

     Blitar, sebuah kota kecil yang dinaungi oleh gunung kelud yang termasuk rentetan gunung berapi sehingga membuat daerah ini menjadi salah satu zona yang subur. Disatu sisi blitar memiliki keunikan-keunikan yang khas ( seperti semua wilayah Indonesia yang punya kelebihan dalam hal ciri khas), dan dari sisi history Blitar juga punya andalan. Jika kata Blitar secara tiba-tiba menerobos gendang telinga kita ( seperti demonstran yang menerobos brigade polisi) maka otak kita akan langsung memungut suatu kesimpulan. “Makam Bung Karno”, itulah yang akan teringat diotak kita. Kecuali kalau lahir anda di Blitar ataupun punya orangtua, istri, anak, kekasih ataupun sesuatu yang lebih berkesan disana., tapi pasti ada juga kata-kata itu. Kota yang berbatasan dengan Malang, Kediri dan Tulungagung ini mempunyai beberapa hasil kebun atau hasil pangan andalan yang cukup jadi daya tarik para wisatawan. Mulai dari pecel blitar, es plecir, sementara hanya itu yang dapat saya ungkapakan karena belum mencoba yang lain. 
     Kalau bicara makanan, tentu kurang afdol kalau belum ditutup dengan cuci mulutnya, apalagi kalau bukan buah-buahan. Rambutan blitar tentu sesuatu yang harus kita tanyakan pada teman dari Blitar saat pulang kampung ( asal pada musimnya). Apakah hanya rambutan? Tidak juga, disana juga ada nanas super (supernya Blitar tentunya), yang banyak dijual dipinggir jalan. Belimbing disana juga menjadi komoditi yang lumayan mendominasi dan patut masuk daftar oleh-oleh saat anda kesana. Satu hal yang saya nikmati waktu bermain ke Blitar adalah harga jagung rebus yang hanya Rp.500,-, murah bener.hehehehehehe,,,,,,,,,,,
     Berangkat dengan naik kereta pukul 14.07 ( itupun molor 17 menit dari jadwalnya) sungguh cerminan budaya jam karet yang membuat Indonesia kurang diperhitungkan dalam hal kedisiplinan. Tapi ketika masuk kereta ada sisi baik dan khas dari Indonesia ( apalagi kalau bukan pedagang asongan ), menjajakan makanan dan berbagai pernak-pernik. Tidak perlu keluar kereta kalau kita ingin mencoba beberapa kuliner khas suatu daerah. Padat yang super, itulah keadaan kereta ekonomi di semua rute di pulau jawa. Sampai 1jam saya dan jafar ( teman hunting kali ini) berdiri, cukup membuat kaki berlatih untuk berjalan panjang esok harinya. Masih belum habis reality show di kereta itu, ketika pak kundektur memeriksa karcis, masih adapula yang belum bayar karcis, bukan membayar denda atau hukuman cukup membayar 60-80% dari harga karcis sudah terlepas dari hukuman ataupun denda. Ntah kemana uang pengganti hukuman itu saya juga kurang paham, kantong PT KAI atau kantong bapak yang memintanya?
     Sesuatu yang selalu saya rindukan dalam perjalanan jauh, naik angkutan umum (kelas ekonomi utamanya), bukan harga yang sangat murah, pedagang asongannya, apalagi pengamen yang datang lebih on time dari pada jadwal keberangkatan kereta itu sendiri. Bertemu banyak orang, mendapatkan ilmu gratis dan bisa bercermin dari ucapan-ucapan sindir-menyindir, saling menasehati, memberi saran,berbagi pengalaman dan lain sebagainya. Itulah yang selalu membuat perjalanan menjadi nikmat. Dari para penumpang yang mempunyai berbagai profesi, umur, budaya dan cara berpikir. Kali ini saya berkesempatan mendengar sebuah debat kecil bapak yang punya bisnis sewa sawah, sebuah ide bisnis yang cemerlang, modal bisa kembali 120%. Modalnya memang tidak sedikit bagi kantong saya yang masih berstatus mahasiswa terutama label “mengandalkan kiriman orang tua”. Semoga setiap perjalanan saya menemukan ilmu dan pengalaman baru, itulah doa saya saat itu. Amin ya rabb,,,,,
     Sesampai di stasiun blitar pukul 16.34, menuju mushola di stasiun lalu sholat ashar. Setelah itu ekspedisi blitar kami mulai, setelah membeli gorengan dilanjutkan jalan-jalan melihat kota kecil yang terkenal ini. Belum jauh kaki melangkah akan tetapi hujan sudah turun dengan cukup deras, alhasil kami berteduh dulu. Tanpa mau membuang waktu akhirnya kami memutuskan untuk mencoba stile rambut baru dengan potong rambut. Setelah berteduh sampai sholat isa kami jalan-jalan ke alun-alun, hujan menyambut kedatangan kami di Blitar, tapi juga membantu kami untuk pulas beristirahat. Seperti kota kebanyakan, pusat keramaian terletak berdekatan sehingga memudahkan dalam hal mencapainya dengan jalan kaki.
     Alun-alun yang indah dengan pohon beringin yang sudah berusia 100th kurang lebih ( karena pada masa bbung karno saja sudah lumayan besar). Di alun-alun kota ini sangat nyaman untuk arriyadoh wa rihlah (olahraga dan jalan-jalan), sebuah kanyataan yang tidak bisa terbantahkan. Bagaimana tidak, anda mau fitness semuanya sudah ada, mau makan, belanja, main bola, ngobrol, atau menghabiskan malam, disini tempatnya, sae saestu ( bagus sekali). Sekembalinya anda juga bisa mampir ke Masjid jami’ di sebelahnya, walaupun pada malam hari ditutup ( masalah keamanan mungkin). Menikmati indahnya Blitar dengan distro-distronya, meskipun tidak beli tapi acara cuci mata menjadi penyegar otak dan memberi sedikit inspirasi.
     Keesokan harinya, materi pertama adalah wisata kuliner (pecel Blitar), meskipun sudah sering makan pecel tapi mencoba yang dari blitar dengan suasana yang berbeda tentu tak ada salahnya. Setelah selesai kami melanjutkan berjalan ke makam bung karno (sang ploklamator dan presiden yang pertama), sungguh kami punya target yang luar biasa untuk dapat kesana. Jalan belum ada 1jam kami sudah sampai di makam bung karno, suasana mistik tdsk begitu nampak, tapi aura beliau muncl ketika kami masuk makam beliau. Sebelumya kami sholat duha dulu, baru satelah itu kami membaca yasin untuk almarhumah bapak bangsa ini, semoga amal ibadah beliau diterima oleh allah swt, segala dosa-dosanya diampuni oleh allah swt, dan beliau diberikan tempat yang mulia. Yang tidak kalah penting semoga ada pemimpin yang mampu seperti beliau untuk mengharumkan bahasa Indonesia. Amin ya rabb,,,,
     Disana terdapat perpustakaan yang cukup lengkap, untuk mendiang pejuang yang lahir di Surabaya ini. Ada pula foto-foto beliau mulai dari anak-anak, waktu masa muda, masa memerintah, bertemu dengan delegasi-delegasi tetangga dan lain sebagainya. Adapula foto ketika berboncengan dengan istri beliau, ketika menghisaprokok yang dinyalakan oleh perdana menteri India. Betapa kuat dan termasyur plokamator ini, suasana ketegasan dan keberaniannya, sepertiketika menyatakan diri keluar dari keanggotaan PBB karena masalah akan dibentuknya Negara boneka Malaysia. Inilah bung karno, setiap pemimpin punya sisi gelap dan sisi terangnya, mari kita ambil yang baiknya sebagai contoh dan jangan ditiru yang buruk. Semoga setelah ini Indonesia punya pemimpin yang berjiwa bung karno, cinta tanah air dan berani berdiri tanpa tergantung kepada bangsa lain.
     Tidak lupa kami mampir ke stadion supriyadi, stadion yang dipakai kandang oleh PSBI blitar ini membuatnya menjadi ikon persepakbolaan blitar. Meskipun tak sebesar gajayana, dan kualitas rumput masih kalah dengan kanjuruhan, tapi lumayan untuk kelas stadion di Indonesia. Penjual jajanan, pakaian, aksesoris menjamur disekita makam bung karno, jalan-jalan dipenuhi oleh para pedagang sampai trotoar menjadi tempat dagangan. Pulangpun distro-distro menjadi pilihan untuk cuci mata kami, jam 16.20 kami berangkat naik kereta ke malang, kali ini 100% berdiri. Alhamdulillah,,,,

0 komentar:

Post a Comment

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com