Showing posts with label Sastra Jawa. Show all posts
Showing posts with label Sastra Jawa. Show all posts

19 Apr 2013

Budaya Jawa itu bukan 'KLENIK' tapi 'FALSAFAH'

Nasi Tumpeng, ini bukan klenik, tapi falsafah, ingat itu.
       Pernahkah anda menanyakan, "kenapa tumpeng itu selalu betuknya kerucut? kenapa tidak balok?". Lalu kenapa tidak tanya, "mengapa harus ada sesaji kebun-kebun? bukannya itu syirik?". Ada lagi yang fatal, "kenapa pakai kemenyan? mau manggil setan?" 
       Tahukah anda filosofi dari tumpeng? Tumpeng itu kerucut, karena segala sesuatu yang ada di dunia ini selalu mengerucut. Mengerucut untuk satu titik, yang di atas segala, Allah azza wa jalla. Lalu hasil kebun yang dibuat sesaji? Itu sebenarnya bukan sesaji tetapi pengumpulan hasil bumi saja untuk disyukuri. 
       Misal biji-bijian dan umbi-umbian, ini dukumpulkan agar kita bisa berpikir "subhanallah, betapa banyak karunia Allah!" Yang tidak ditemukan jika hanya melihat panen sendiri. Biji-bijian, agar manusia mampu bersikap jujur seperti biji itu. Adakah biji jagung ditanam lalu tumbuh durian? atau nanam biji mangga yang tumbuh padi? Tidak bukan? Itulah prinsip kejujuran. Sementara untuk umbi, umbi adalah 'pala kependem' (baram yang dikubur). Ini mengingatkan kita, pasti suatu saat kita akan dikubur pula, tak tahu kapan, dimana dan dengan cara bagaimana? 
       Sementara kemenyan, tahukah anda? klenik kah itu? bukan, itu adalah wewangian, karena dahulu belum ada minyak wangi macam sekarang. Ingat bukan "Siapa yang dekat dengan penjual parfum akan ikut kena harumnya, jika dekat dengan pandai besi pasti terkena api".  
       Kebanyakan masih sedikit yang tahu tentang hal ini, yang tahupun masih sangat jarang yang menyampaikan. Semua yang ada dijawa itu selalu mengandung arti yang dalam. Jadi mari jaga tradisi dan ingatkan kepada mereka yang lupa, agar setiap budaya juga terhitung budaya. Salam dari Sang Penggembala, Tyas Haryadi, semoga bermanfaat.

17 Mar 2013

Tomat lan Manfaate (versi basa jawa)

Tomat, buah ingkang katang manfaate.
Assalamu'alaikum warohmah wabarkah alhamdulillah hirobbil 'alamin, Asyhadualla illa ha ilallah, waasyhaduanna muhammadarrosulullah..... 
        Mugi-mugi gusti Allah ingkang makarya jagad, ingkang andamel gesang paring kaharajan, kawilujengan dumateng kula lan panjenengan sedoyo. InsyaAllah kula lan panjenengan sedaya hambanipun ingkang sukses dunya akhirat. amin Wonten wedal punika kula badhe maparaken sekedik pigunanipun tomat, inggih punika salah sawijineng ciptaanipun gusti Allah. Sedaya ingkang dipun damel kalian Allah, katah sanget pigunanipun, semanten ugi tomat. 
       Tomat mujudaken tetuwuhan ingkang paling gampil diprangguli. Wernanipun ingkang abrit saget dados paugere paningal. Sak sanesipun katah ngandung vitamin A lan C, tomat ugi dipercados saget ngobati katah penyakit. kadoso sejarahipun tomat utawi basa latinipun 'Lycopercisum Esculentum' tlatah asalipun ten Peru, Ekuados lan Bolivia. Menawi wonten Perancis dipun arani kalian asma 'Apel Cinta' utawi 'Pomme D'amour'.
       Dr. mieristika Rooselani (28 taun) saking Dura Skin Center, maparaken menawi tomat menika gadahi mupangat katah tumrap angganipun manungso: ngandhut gizi lan 'fitonutrien' kadoso pro vitamin A, vitamin B1, vitamin C, mineral, kalsium, wesi, welirang, kalium, fosfor, lycopenen, saponin, lutenin, caumarin, asam sitrat lan serat. 
       Tomat sae damel tiyang ingkang diyet lan wadon ingkang gadah kepinginan ayu parasipun. 'Lycopene' menika saget nyegah kerut lan flek ireng dateng kulit amargi sunaripun srengenge. saking penelitian menawi 80% kerut ten kulit manungsa menika kasebabake sunaripun srengenge. 'Lycopene' gadah 'antioksidan' ingkang ampuh damel ngirangi 'penuaan dini' ingkang dipun sebabaken sunaripun srengenge. 
      Salah satunggalipun situs internet nganjuraken nambah tomat dateng dedaharan, kadoso : spaghetti, pizza, sup, utawi sanesipun. Punapa kedah milih ingkang dipun masak? Tomat ingkang dimasak kadhutan 'lycopene' saget mindak ngantos sekawanipun katimbang mentah. Ananging kedahe dipun godok punapa kukus, sanes goreng, amargi 'lycopene' mboten gampil diserap kalian angga menawi digoreng. 
        Ngunjuk setunggal gelas jus toman saben dinten dipercados langkung sae tinimbang ngunjuk jus jeruk. Amargi sak sanese vitamin C kados ingkang digadahi jeruk, tomat ugi gadah 'lycopene'. Damel ingkang mboten remen tomat, wanten ugi 'suplemen lycopene', nanging kedah rerembugkan kalian dokter menawi badhe migunakake. Pigunanipun tomat tumrap kasarasan sejatosipun pun dangu dipun teliti. Salah sawijining menika Dr. John Cook Bennet saking Wiloughby University Ohio. 
      Saking penelitianipun Dr. Joh dilapuraken menawi tomat saget ngobati gangguan pencernaan, diare, mulihaken pigunanipun liver, lan serangan empedu. Riset sak sanesipun ten Rowett Research Institur, Aberdee, Scotlandia, dipun tepangake menawi gel ingkang werno kuning ingkang ngelindungi wijinipun tomat menika saget nyegah 'penggumpalan' lan 'pembekuan' getih kang nyebabaken stroke lan gerah jantung. Subhanallah, sak menika dereng diteliti langkung malih saking kulitipun tomat, godong ipun, batang, oyot, lan sak sanesipun. 
       Menawi mangertosi, sedaya ingkang dipun ciptaaken gusti Allah tansah katah hikmah lan pigunanipun damel manungsa. Mugi-mugi kula panjenengan sedoyo saget belajar lan ngelestarikaken sedaya tetanduran, salah sawijinipun tomat menika. Semanten rumiyin, menawi wonten leresipun menika saking Gusti Allah, menawi katah lepat lan luput menika saking kula. Akhirulkallam, billahtoufik walhidayah waridho wal'inayah, wassalamu'alaikum warohmah wabarkah.... Saking Tyas Haryadi, Cah Angon... ^_^

3 Dec 2012

Arjuna menek kates

Tokoh Janaka dalam pewayangan jawa.
       Pernah dengar nama Arjuna dulur? Bukan saya, nama saya Tyas Haryadi, orang yg berhati mulia dan bijaksana bukan arjuna. ARJUNA adalah nama seorang tokoh protagonis (ngertos protagonis tidak?) dalam wiracarita Mahabharata. Ia dikenal sebagai sang Pandawa yang menawan parasnya dan lemah lembut budinya. sosok tokoh yang kaya akan pengetahuan dan ilmu (Jw: buntas ing kawruh lawan ngelmu), kaya akan senjata dan mantera (Jw: sungih gaman lan mantram), kaya akan istri (Jw: sugih bojo) <~ yg ini semoga jangan ke manusia. Arjuna kaya akan ilmu. Di mana ada pendeta sakti (Jw: pandhita sing gentur tapane, mateng semadine, sidik paningale) didatangi, ditimba ilmunya sampai tuntas/habis. 
       Akan tetapi berbicara tentang Arjuna, saya ingin berbagi cerita tentang sebuah cerita. Dahulu sewaktu kecil, entah ibu, nenek, atau bulik-bulik saya (bibi), sering menyebut "Arjuna menek kates". Entah apa maksudnya, tetapi akhir-akhir ini saya mulai berpikir. Seharusnya saya juga belajar tentang janaka, siapa dia, apa pembelajaran yang dapat diambil dari tokoh ini sampai apa hubungannya dengan menek kates? Hal yang mungkin sederhana, bahkan terkesan tidak penting (menek kates, atau manjat pohon pepaya). Nah, terkadang menjadi orang besar juga harus menjadi orang jenaka yang bisa menghibur dan melakukan hal-hal kecil. 
       Kembali lagi ke Arjuna, Arjuna merupakan teman dekat Kresna, yaitu awatara (penjelmaan) Batara Wisnu yang turun ke dunia demi menyelamatkan dunia dari kejahatan. Arjuna juga merupakan seorang yang sempat menyaksikan "wujud semesta Kresna" menjelang perang Bharatayuddha berlangsung. Ia juga menerima ajaran Bhagawadgita atau "Nyanyian Dewata", yaitu wejangan suci yang disampaikan oleh Kresna kepadanya sesaat sebelum perang Bharatayuddha berlangsung karena Arjuna mengalami keragu-raguan untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang Ksatria dimedan perang. 
       Tentu masih banyak lagi hikmah dari kisah Arjuna, jadi jangan sampai kita lupa dengan budaya sendiri. Terutama adalah tokoh pewayangan, salah satunya adalah Arjuna dengan segala pembelajarannya. Salam cinta budaya sendiri dari sang Penggembala, Tyas Haryadi... ^_^

2 Dec 2012

KERIS, WARISAN LELUHUR ATAU MISTIS?


Keris, salah satu warisan leluhur yang dianggap mistis.
       Keris adalah senjata tikam golongan belati (berujung runcing dan tajam pada kedua sisinya) dengan banyak fungsi budaya yang dikenal di kawasan Nusantara bagian barat dan tengah. Bentuknya khas dan mudah dibedakan dari senjata tajam lainnya karena tidak simetris di bagian pangkal yang melebar, seringkali bilahnya berkelok-kelok, dan banyak di antaranya memiliki pamor (damascene), yaitu terlihat serat-serat lapisan logam cerah pada helai bilah. Jenis senjata tikam yang memiliki kemiripan dengan keris adalah badik. Senjata tikam lain asli Nusantara adalah kerambit. 
       Pada masa lalu keris berfungsi sebagai senjata dalam peperangan, sekaligus sebagai benda pelengkap sesajian. Pada penggunaan masa kini, keris lebih merupakan benda aksesori (ageman) dalam berbusana, memiliki sejumlah simbol budaya, atau menjadi benda koleksi yang dinilai dari segi estetikanya. 
       Penggunaan keris tersebar pada masyarakat penghuni wilayah yang pernah terpengaruh oleh Majapahit, seperti Jawa, Madura, Nusa Tenggara, Sumatera, pesisir Kalimantan, sebagian Sulawesi, Semenanjung Malaya, Thailand Selatan, dan Filipina Selatan (Mindanao). Keris Mindanao dikenal sebagai kalis. Keris di setiap daerah memiliki kekhasan sendiri-sendiri dalam penampilan, fungsi, teknik garapan, serta peristilahan. 
       Nah, tahukah anda, jika sekarang keris menjadi komoditi jual yang cukup tinggi? Seperti yang dilakukan Irwan, pria yang memiliki radio Bimasakti FM di desa Kenongomulyo, Nguntoronadi Magetan ini juga menekuni bisnis jual beli keris. Menurut Irwan, keris yang mahal adalah keris yang tua, pembuatan yang sulit, dan jenisnya yang langka. "Saya bisnis ini musrni karena nilai budayanya, terkadang juga ada batu akik," papar pria yang baru melepas masa lajangnya ini. Nah, jika diambil dari sisi nilai budaya, keris haruslah dilestarikan, kerena itu warisan leluhur, bisa pula jadi media untuk mencari rejeki. Semoga kita juga bisa jaga ni peninggalan sejarah serta budaya kawan, amin. Salam dari Sang Penggembala, Tyas Haryadi.... ^_^

6 Nov 2012

PESAN MULIA DARI AKSARA JAWA, TAHUKAH ANDA?

Aksara jawa, salah satu warisan budaya Indonesia.
       Bahasa Jawa mungkin masih menjadi bahasa yang sering digunakan berbagai kalangan, walau sekarang ini telah mengalami pergeseran (baca, di kumpulan sastra jawa). Akan tetapi berbeda dengan aksara jawa, ternyata sangat minim yang menggunakannya. Adapun menurut beberapa sumber mengatakan bahwa aksara jawa di ambil dr Cerita Rakyat Jawa. Tepatnya dari kisah Aji Saka dengan Dora & Sembada (penGikuT setianya) yang saling berSikukuh memegang amanah. Berikut adalah isi dari aksara jawa serta maknanya: 
Ha Na Ca Ra Ka (Ada uTusan) 
Da Ta Sa Wa La (sama2 menjaga amanat) 
Pa Dha Ja Ya Nya (sama2 saktinya) 
Ma Ga Ba Tha Nga (sama2 menjadi mayat) 
        Dalam kisah tersebut disampaikan, bahwa adanya utasan. Mereka sama-sama menjaga amanat (dalam bahasa arabnya amanah), karena jumlahnya lebih dari satu (dua orang, dora dan sembada). Mereka sama-sama sakti, kesaktian karena menjaga amanat, karena orang memiliki amanat selalu sakti. Diakhirnya, mereka sama-sama menjadi bathang (mayat), karena semua yang hidup tentu akan mati. Lalu, seharusnya kita sadar, bahwa sesungguhnya kita (manusia) diutus kebumi. Agar di bumi menjaga amanat, sehingga menjadi sakti karena berusaha menjaga amanat. Lalu kelak akan mati pula, menjadi bathang. Bagaimana dengan kita sekarang, masihkah menjaga amanah? Jangan lupa belajar aksara jawa dulur-dulur yang asli jawa, karena itu juga amanah kita untuk menjaga warisan budaya. Semoga kita menjadi orang yang amanah, amin. Dari Sang Penggembala, Tyas Haryadi… ^_^

19 Sept 2012

Hiperbola dalam bahasa Jawa

Berbicara, Tyas Haryadi, orang jawa.
       Budaya adalah hasil karya cipta serta rasa manusia, itulah penjelasan secara harfiah tetapi menilik beberapa budaya orang Jawa boleh kita tengok sedikit dari cara bicara. Yaitu hipebola atau melebih-lebihkan, terutama untuk Jawa bagian barat (Jawa kulonan). Ketika menyatakan sesuatu yang sangat besar seharusnya dengan “gedhe tenan”, akan tetapi itu biasanya jadi “Guuueedheeee.......”(dengan nada medok). Sangat kecilpun menjadi “cuuuuiiillliiiikkkkk.....”. sangat jauh menjadi “uuuuuuaaaddduuuooohhh......” dan sebagainya. 
       Logat ini biasanya digunakan oleh orang timur bagian Jawa Tengah (Jogja, Solo, Surakarta, sragen) dan orang barat di Jawa Timur (Blitar, Kediri, Ponorogo, Pacitan, Madiun, Ngawi, Magetan). Jika Anda ke Jawa Timur tengok ke timur, menggunakan logat ini. Maka Anda akan jadi sumber tawa. Karena lucu dan unik. Itulah budaya, selalu istimewa dan punya ciri khas masing-masing. Walau terkadang ini mempengaruhi tipikalis pemimpin di jawa (baca, Jenis Kepemimpinan ala jawa).
       Nah, bagaimana dengan bahasa khas daerah anda? Karena kita berada di Negara kesatuan dari berbagai suku bangsa dan bahasa tentu akan banyak sekali bahasa yang unik dengan cara pengucapan masing-masing. Kita patut mencintai bahasa daerah masing-masing dan menjunjung tinggi bahasa persatuan bahasa Indonesia. Bagaimana dengan hiperbola di daerah anda? “tresnani basa suku piyambak-piyambak (cintai bahasa suku sendiri-sendiri), junjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. baca bahasa Nasional Bahasa Daerah Bahasa Jawa, Semoga bermanfaat, salam dari sang penggembala, Tyas Haryadi… ^_^

19 Mar 2012

Kambingan Dusunku

Rumah Orang tua di dusun kambingan.
kambingan, dusun cilik, tanpa nyilikake, apa anane tanpa ngenek2ke.
sing enom ngormati marang sing tuwa, sing tuwa wenehi wejangan lan tuladaha marang sing enom.
nang grup iki akeh sing enom, mula sing enom pada a rukun. sing enom pada a dadi sing nang ngarep, ngarep dewe mbela kebecikan, ngarep dewe nang uteke iku kesabaran, ojo grusa-grusu, nanging ojo ragu.
sing enom iku duwe aji, ajie ono ing lati.
ding enom iku ndang munggah kaji, ojo ngenteni nak teko pati.
enom iku bakale tuwa, sing tuwo iku pernah enom.
ojo rumongso bisa, nanging bisa a rumangsa.
ojo gemedhe, nanging kudu dadi gedhe.
sing enom iku sing iso ngrubah, dudu sing enom garai bubrah.
muga2 berkah sing enom, berkah marang dusun kambingan. amin... :)

10 Jan 2012

RM Ronggowarsito, pujangga terakhir kraton solo

Patung dada, RM Ronggowarsito
       Pada abad 18 tentang pujangga terakhir tepatnya di kraton solo (waktu itu jaman perang diponegoro) ceritanya begini mungkin ini dimulai sejak si pujangga lahir ya yakni hari Senin Legi tanggal 10 Zulkaidah tahun Jawa 1728 atau tanggal 15 Maret 1802 Masehi kurang lebih jam 12.00 siang lahirlah seorang bayi dirumah kakeknya yang bernama R. Ng. Yosodipuro I, . Bayi yang baru lahir itu diberi nama Bagus Burham. 
       Sejak umur 2 tahun sampai 12 tahun Bagus Burham ikut kakeknya.Ayahnya bernama R. Tumenggung Sastronegoro yang mengharapkan anaknya dikelak kemudian hari menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan negaranya. Maka oleh sang ayah, Bagus Burham dikirim ketempat pendidikan yang memungkinkan dapat mendidik anaknya lebih baik dari dirinya sendiri.Waktu itu pondok Pesantren di kawasan Ponorogo yang dipimpin oleh Kyai Imam Besari terkanal sampai dipusat Kerajaan Surakarta. Kesanalah Bagus Burham dikirim untuk mendapatkan tambahan ilmu lahir batin serta keagamaan. Pondok Tegalsari yang dipimpin Kyai Imam Besari ini mempunyai murid yang banyak dan terkenal.
        Bagus Burham berangkat ke Pesantren Tegalsari disertai pembantunya(penjaga/bodyguard kali ya) yang bernama Ki Tanujoyo. Ditempat yang baru itu Bagus Burham sangat malas. Ditambah lagi lebih suka menjalankan maksiat dari pada mengaji. Berjudi adalah merupakan pekerjaannya setiap hari. Juga pekerjaan maksiat yang lainnya. Adu ayam termasuk kesukaan yang tidak perbah diluangkan. Dari pada mengaji hari-harinya dihabiskan dimeja-meja judi dari satu desa ke desa lainnya. Sehingga terkenallah Bagus Burham bukan sebagai santri yang soleh tetapi sebagai penjudi ulung dikalangan orang-orang di daerah Ponorogo.
        Dasar seorang anak Tumenggung, uang banyak dan biasanya dimanja oleh orang tua atau kakeknya. Karena kegemarannya bermain judi, adu ayam dan perbuatan-perbuatan maksiat yang lain Bagus Burham banyak berkenalan dengan warok-warok Ponorogo yang satu kegemaran. dan pembantunya(bodyguard) juga selalu memamerkan sihir dan bermain dengan jin sehingga Perbuatan putra Tumenggung ini sangat merepotkan hari Kyai Imam Besari. Diharapkan seorang putra priyayi keraton ini akan memberi suri teladan bagi murid-murid (santri-santri) yang lein tetapi ternyata sebaliknya.Seringkali Bagus Burham mendapat teguran dan marah dari Kyai Besari. Namun hal itu tidak merubah sifatnya. Dia tetap penjudi, tetap penyabung ayam, tetap gemar pada tindakan-tindakan yang menjurus ke maksiat. Karena merasa bosan setiap hari mendapat dampratan dari gurunya maka Bagus Burham perni meninggalkan pondok Tegalsari diikuti oleh Ki Tanujoyo.
        (Versi lain mengatakan bahwa kepergian Bagus Burham karena KyaiImam Besari merasa jengkel akan ulah Bagus Burham. Kemudian pimpinan pondok Tegalsari itu memanggil abdi kinasih Ki Tanujoyo dan menseyogyakan Bagus Burham tidak usah belajar mengaji di pondok Tegalsari). Meninggalkan pondok Tegalsari Bagus Burham tidak mau pulang ke Solo. Dengan diiring oleh oleh abdinya yang bernama Ki Tanujoyo.
        Bagus Burham bertualang sampai di Madiun. Ditempat itu uang sakunya habis. Ki Tanujoyo kemudian berdagang barang loakan. Sedangkan Bagus Burham tetap pada kegemarannya semula. Betapa bingungnya Raden Tumenggung Sastronegoro tatkala mendapat laporan Kyai Imam Besari bahwa puteranya pergi dari Tegalsari. Kemudian dipanggillah di Josono agar mencari Bagus Burham sampai ketemu. Bila ketemu agar diajal kembali ke Tegalsari. Kyai Imam Besari kembali dari Keraton Solo mendapat laporan dari penduduk Tegalsari bahwa sekarang daerah Tegalsari tidak aman.
        Banyak pencuri serta tanaman diserang hama. Kyai Imam Besari memohon petunjuak dari Tuhan. Mendapatkan ilham bahwa keadaan daerahnya akan kembali aman damai apabila Bagus Burham kembali ke Tegalsari lagi. Oleh karena itu Kyai Imam Besari segera mengutus ki Kromoleyo agar supaya berangkat mencari kemana gerangan perginya Bagus Burham. Bagi Ki Kromoleyo bukan pekerjaan yang sulit mencari Bagus Burham. Sebab dia tahu kehidupun macam apa yang digemari Bagus Burham. Tempat judi, tempat adu ayam. Itulah sasaran Ki Kromoleyo. Pada penjudi dan pengadu ayam ditanyakan apakah kenal dengan pemuda yang bernama Bagus Burham. Orangnya tampan. Jejak Bagus Burham akhirnya terbau juga. Ki Kromoleyo dapat menemukan Bagus Burham dan mengajak kembali ke Tegalsari. Namun Bagus Burham tidak mau. Karena bujukan Ki Josono utusan orang tuanya yang kebetulan juga sudah menemukan tempat Bagus Burham maka kembalilah Bagus Burham ke Tegalsari. Kyai Imam Besari menghadapi Bagus Burham dengan cari lain. Sebab ternyata sekembalinya dari petualangannya Bagus Burham bukan semakin rajin mengaji tetapi semakin boglok dan bodoh. Tampaknya. Menghadapi murid yang demikian Kyai yang sudah berpengalaman itu lalu mengambil jalan lain. Bagus Burham tidak langsung tidak langsung diajar mengaji seperti santri-santri yang lain. Dia bukan keturunang orang biasa tetapi masuk memiliki darah satriya. Maka tidak mengherankan kalau dia juga memiliki/mewarisi sifat-sifat leluhurnya. Gemar sekali kepada hal-hal yang memperlihatkan kejantanan seperti adu ayam dan lain sebagainya.
        Setelah menjalani tapa kungkum selama 40 hari lamanya maka Bagus Burham tumbuh menjadi anak yang pandai. Kyai Imam Besari tersenyum lega melihat perkembangan anak asuhnya yang paling bengal itu. Terapinya kena sekali. Padahal terapi itu hanya berdasarkan dongenn yang pernah didengarnya. Bahwa dahulu kala ada seorang pemuda yang bengal, nakal, penjudi, pemalas, perampok yang bernama Ken Arok. Namun karena ketekunan seorang pendidik yang bernama Loh Gawe maka akhirnya Ken Arok enjadi raja di Singosari. Menurunkan raja-raja besar di tanah Jawa. Dari Mojopahit sampai ke Surakarta semua menurut silsilah masih keturunan langsung dari Ken Arok. Dan R. Patah pun keturunan Ken Arok. Jadi Bagus Burham juga keturunan Ken Arok. Siapa tahu kenakalannya juga turunan yang dikelak kemudian hari akan menjadi orang yang luar biasa. Bagus Burham menjadi murid yang terpandai. Selama 4 tahun dipondok Tegalsari ilmu gurunya sudah terkuran habis. Tidak ada sisanya lagi. Kyai Imam Besari memuji keluhuran Tuhannya. Dia melimpahkan habis ilmunya kepada muridnya. Setelah dirasa cukup maka Bagus Burham kembali ke Surakarta. Oleh tuanya Bagus Burham disuruh langsung ke Demak untuk belajar mengenal sastra Arab dan kebatinan jawa pada Pangeran Kadilangu.
        Apakah ayahnya punya maksud agar kelak anaknya dapat menandingi kepandaian rajanya ? Bagus Burham seorang kutu buku yang luar biasa. Dengan bekal kepandaian yang dimiliki dari beberapa guru-gurunya, Bagus Burham kemudian menekuni soal kesusastraan Jawa serta peninggalan – peninggalan nenek moyang. Buku-buku berbahasa kawi kuna ditelaah dan dipelajarai sebaik-baiknya.
        Jiwa petualang masih juga membara dalam kalbunya. Dia seringkali mengadakan perjalanan dari satu daerah kedaerah yang lain. Bagus Burham meninjau tempat-tempat yang bersejarah, tempat-tempat yang mengandung nilai-nilai historis, tempat-tempat yang keramat, ke candi-candi dan tempat-tempat penting lainnya. Disembarang tempat dipelbagai daerah kalau dianggap ada orang yang memiliki kepandaian lebih maka tidak malu-malu Bagus Burham berguru para orang tersebut. Tidak peduli dia hanyalah seorang juru kunci atau orang biasa. Pada usia 18 tahun sebagaimana kebiasaan anak priyayi waktu itu ingin mengabdikan dirinya kepada keraton. Caranya haruslah dengan magang (pegawai percobaan) pada Kadipaten Anom. Jiwa senimannya atau darah kepujanggaannya terasa mengalir deras ditubuhnya. TIdak merasa puas dengan pekerjaan magang tersebut. Maka Bagus Burham mohon pamit sebab dirasa tidak ada kemajuan. Dia ingin mengembara ingin bertualan menuruti gejolak darah senimannya. Hampir seluruh pelosok pulau Jawa telah dijelajahi oleh Bagus Burham. Bahkan juga luar jawa sepeti Bali, Lombok, Ujung Pandang, Banjarmasin bahkan ada sumber yang mengatakan pengembaraan Bagus Burham sampai di India dan Srilanka. Melihat perjalanan hidupnya seperti tersebut diatas pantaslah kalau Bagus Burham menjadi manusia yang kritis menghadapi suatu persoalan. (Ungkapan perasaannya tampak ada karyanya ” Serat Kala Tida “.
        Pulang dari pengembarannya Bagus Burham kawin. Karena sang mertua diangkat menjadi Bupati di Kediri maka Bagus Burhampun mengikuti ke Kediri. Ditempat tersebut yang terkenal sebagai tempat bersejarah banyak peninggalan-peninggalan dari jaman terdahulu. Di Kediri pernah berdiri kerajaan besar dimana salah satu rajanya adalah Sang Prabu Joyoboyo. Waktu sang prabu berkuasa agaknya keadaan negara sangat tenteram dan damai terbukti lahirnya beberapa karya sastra besar. Sang Prabu memerintahkan kepada Empu Sedah dan Empu Panuluh agar menceritakan kembali atau menyusun ceritera BARATAYUDAHA dalam bahasa yang lebih muda diambil dari buku Maha Barata asli dari India. Demikian indahnya gubahan tersebut sehingga banyak yang mengira bahwa kejadian itu terjadi di tanah Jawa. Sebelum raja Joyoboyo, di Kediri juga lahir hasil sastra yang tinggi mutunya. Smara Dahana kitab karya Empu Darmaja, juga buku Sumana Sentaka karya Triguna merupakan hasil sastra yang sulit dicari bandingannya. Di daerah yang seperti itu tentu saja banyak peninggalan-peninggalan berupan rontal-rontal yang dimiliki penduduk warisan dari nenek moyang. Dengan tekun Bagus Burham di Kediri waktunya dihabiskan untuk mempelajari rontal-rontal yang dapat dikumpulkan dari perbagai daerah. Dari rontal-rontal, pengalaman / pengetahuan selama mengembara dan berguru itulah dia dapat menimba pelbagai ilmu.
        Baru setelah Bagus Burham berumur 38 tahun mulai produktif dengan karya sastranya. Dan pada tahun 1844 pihak keraton mengangkat menjadi Kliwon Carik dan disyahkan menjadi Pujangga Keraton. Namanya Raden Ngabehi Ronggowarsito dan semakin tenar. Kariernya tidak licin sebab agaknya juga dipengaruhi bahwa orang tuanya (Raden Tumenggung Sastronegoro) dianggap bersalah kepada kompeni Belanda sebab pernah merencanakan akan menggempur benteng Kompeni diwaku jaman pemberontakan Diponegoro (1825-1830). Akhirnya R.T. Sastronegoro dibuang dan makamnya ada di Jakarta.
        Setelah Raden Ngabehi Ronggowarsito tiada itu tidak ada lagi pujangga baru selama 1 abad maka pantaslah kalau dia bergelar pujangga terakhir. semoga bermanfaat, salam dari Sang Penggembala, Tyas Haryadi.... ^_^

4 Jan 2012

Purwacaraka

Transkripsi
       Transkripsi adalah alih tulis naskah tanpa mengganti jenis tulisan naskah yang disalin, misalnya dari tulisan Jawa ke Jawa, dari tulisan latin ke tulisan latin.
a. Transkripsi diplomatik,yaitu alih tulis naskah tanpa mengganti jenis tulisan naskah yang disalin sesuai bentuk aslinya.
//o//purwawacana//
         //nuwun tumrap tumrapipun dulaÅ‹ Å‹anjawi iÅ‹ madya wiyata, prêlu saŋêt wontènipun sêrat waosan iÅ‹kaÅ‹ dhapukan saha basa punapa malih suraosipun sagêt laras kaliyan alamipun sapunika : jaman mardika, swasana nasiyonal iÅ‹kaÅ‹ susila.
        //basapunika woh iÅ‹ kabudayan iÅ‹kaÅ‹ kapara baku piyambak, déné kabudayan iÅ‹kaÅ‹ kêdah pinilala, kusus kêdah namuÅ‹ kabudayan iÅ‹kaÅ‹ sagêd murakabi iÅ‹ Å‹akathah, tuwin wontên mumpabatipun dhatêŋ kasusilan kaluhurraniÅ‹ budi. Lah iÅ‹gih punika iÅ‹kaÅ‹ dados anycêriÅ‹ sêdya Å‹aÅ‹gén kula kapi adraÅ‹an dhapuk sêrat waosaréaÅ‹gal kaÅ‹ge para mudha putri putra kita.
        //kalampahnipun sagêd awujud sêrat sarta pantês kaécap punika, kabêkta sakiÅ‹ gên kula bêgja, kasil aÅ‹gén kula aÅ‹gu bêlambabana dhatêŋ priyantunsêpuh iÅ‹kaÅ‹ sampun mardika mahambêg pinanthika wontên iÅ‹ pacrabakan sikênong kithaklathén inggih punika radén tumêŋguÅ‹ yasawidagda, juru Å‹arrangÅ‹iÅ‹ sêrat sêrat iÅ‹kaÅ‹ dados karêmêniÅ‹ Å‹akatah, wiwit jaman watawis taun 1915 dumuginipun sapriki, kadosta:
1 // kraton powan bab patilassan patilasaniŋ sukunipun prêdilawu sisih lér.
2 // mitradarma, cariyos mitra kakalih namasaŋ kankaliyan paran, alam gégér trunajaya.
3 // purasani, sêmahipun simpên, iŋ talatah prambanan,
4 // jarot 2 jilid
5 // kirti anyjunyjuŋ drajat, satuŋgaliŋ nênêma nilar kapriyantunan botên purun magaŋ, dipun pilalah dados tukaŋ sêpêdhah.
6 // niwuŋ kuka iŋ béndha growiŋ, agambar kastraniŋ biyuŋ dateŋ anak,
//Sadaya punika wêdalan balé pustaka, basa jawi, sedereŋipun taun 1942.
//Wiwit kala samantên kéŋing winas tan pêpêt sumbar, sampun botên mêdal sêrat maosan jawi, kajawi sêrat kalih:
1. Nama pêti wasiat iŋgih sakiŋ yasawidagdan pêdalan yayasan bakti iŋ Jakarta, sampun taun 1952 punika.
2. Dongéng sato kéwan yasanpakpriyana windu winata pros dhoktor priyono, wêdalan balé pustaka 1952.
Lah sasana sastra kasêmbadana dados sêrab jawi wdaŋka 3 wiwit ŋanycik jaman mardika. Awon saé, kéŋnarêsan utawi botên punika sumaŋgakakên dhatêŋ para iŋkaŋ sudi kasduŋuni ŋandi utawi ŋagêm pintên baŋgi kêdugi nanarik sêŋsêmipun anak putu tumrap dhatêŋ éndah édiniŋ kasusastran jawi. Manawi kahupamêkna taman banjaran sari, para anak putu têmah lajêŋ sami puruna aŋiŋipuk andhaŋir ŋrapuk supados sakathah ing tatanêman pêpêthêtan sagêd subur sêgêr ngrêsêp pakén manah tuwin mêdal mumpaŋatipun,
        //Déné sasana sastra punika tiyaÅ‹ iÅ‹gih namiÅ‹ nama. Dumados siÅ‹ nama limrahipun pinaÅ‹gih sakiÅ‹ prêntuliÅ‹ manah utawi wêdhar ing raos botên mawi kanalar rumiyin mêŋgah iÅ‹ têgês têgêsasipun, manawi wêdharripun punika sampun adamêl marêm mingraoa sawêg lajêŋ dipun manah bab têgêsipun sados têgês punika dhawah wdaÅ‹kakalih, utawi namiÅ‹ nututi. Sasana sastra manawi kanalar têgêsiÅ‹ têmbuÅ‹ipun
Ha// sagêd atêgês : sêrat piwulaŋ. Sastra kaŋ sisi sasana.
Sastra=kitab sêrat wawaton juru mulaŋ. Nahnana=piwulaŋ.
Na//Kéŋiŋ dupun têgêsi: êŋgén sastra, utawi: kaŋgé wadhah sastra. Sastra iŋ ŋriku ktêgêsan: basa, kawruh bab basa, basa édi. Sasana= Asana, paŋnaŋgahan papan kadosta iŋ têmbaŋ siŋgasana = siŋa Asana, paŋnaŋgah aniŋsiŋ. Sêrat sanasunu tilarranipun pujoŋga agêŋ kaiyasadira pura, punika wêtahipun: sasanasunu. Atêgês piwulaŋ mrapiŋ anak, manawi kaurutakên makatên sasana sastra iŋgih sagêd atêgês: piwulaŋ tumrapiŋ basa, punapa tumrap iŋ tulis,
// iŋ têmbaŋ têmbaŋ jawi kadosta: sana séwaka, sana suméwa, sana prabu, sasana mulya, sasana suka, sasana mudha, tirtasah sakiŋ sasana, punika sana utawi sasana sami sampun atêgês piwulaŋ agama Buddha.
//Sasana sastra damêlan saha gadhahanipun tiyaŋ kalih, yasasidagda adiwijaya, punika, nadyan aksara jawi, mugi kalampah ana dados sêrat capcapan kanggé nyampêdika kabêtahan,
//Yogyakarta 1 désémbêr 1952.
b. Transkripsi ortografi,yaitu alih tulis naskah tanpa mengganti jenis tulisan naskah yang disalin dan disesuaikan dengan penulisan dengan berdasarkan ejaan yang disempurnakan.
//o//purwawacana.
        //nuwun tumrap tumrapipun dulang nganjawi ing madya wiyata, prêlu sangêt wontênipun sêrat waosan ingkang dhapukan saha basa punapa malih suraosipun sagêd laras kaliyan alamipun punika : jaman mardika, swasana nasional ingkang susila.
       //basa punika woh ing kabudayan ingkang kapara baku piyambak, déné kabudayan ingkang kêdah pinilala, khusus kêdah namung kabudayan ingkang sagêd murakabi ing kathah, tuwin wontên mumpabatipun dhatêng kasusilan kaluhuraning budi. Lah inggih punika ingkang dados anycêring sêdya nganggé kula kapi adrangan dhapuk sêrat waosa rénggal kanggé para mudha putri putra kita.
        //kalampahnipun sagêd awujud sêrat sarta pantês kaécap punika, kabêkta saking yen kula bêgja, kasil anggén kula anggubêlambabana dhatêng priyantun sêpuh ingkang sampun mardika mahambêg pinanthika wontên ing pacrabakan sikênong kithaklathén inggih punika radén Tumênggung Yasawidagda, juru ngaranging sêrat-sêrat ingkang dados karêmên ing ngakatah, wiwit jaman watawis taun 1915 dumuginipun sapriki, kadosta:
1 //kraton powan bab patilas san patilasaning sukunipun prêdilawu sisih lér.
2//mitradarma, cariyos mitra kakalih namasang kaliyan paran, alam gégér trunajaya.
3//purasani, sêmahipun simpên, ing talatah prambanan,
4//jarot 2 jilid
5//kirti anyjunyjung drajat, satunggaling nênêma nilar kapriyantunan botên purun magang, dipun pilalah dados tukang sêpêdhah.
6//niwung kuka ing bêndha growing, agambar kastraning biyung datêng anak,
//Sadaya punika wêdalan balé pustaka, basa jawi, sêdéréngipun taun 1942.
//Wiwit kala samantên kénging winas tan pêpêt sumbar, sampun botên mêdal sêrat maosan jawi, kajawi sêrat kalih:
1. Nama pêti wasiat inggih saking yasawidagdan pêdalan yayasan bakti ing Jakarta, sampun taun 1952 punika.
2. Dongéng sato kéwan yasanpakpriyana windu winata pros dhoktor priyono, wêdalan balé pustaka 1952.
Lah sasana sastra kasêmbadana dados sêrat jawi dangka 3 wiwit ngancik jaman mardika. Awon saé, kangnarêsan utawi botên punika sumanggakakên dhatêng para ingkang sudi kasdunguni ngani utawi ngagêm pintên bagike dugi nanarik sêngsêmipun anak putu tumrap dhatêng éndah édining kasusastran jawi. Manawi kahupamêkna taman banjaran sari, para anak putu têmah lajêng sami puruna angingipun andhangir ngrabuk supados sakathah ing tatanêman pêpêthêtan sagêd subur sêgêr ngrêsêpakên manah tuwin mêdal mumpangatipun,
       //Déné sasana sastra punika tiyang inggih namung nama. Dumados sing nama limrahipun pinanggih saking prêntuling manah utawi wêdharing raos botên mawi kanalar rumiyin menggah ing teges-tegesipun, manawi wedharipun punika sampun adamêl maêm ming raosa sawêg lajêng dipun manah bab têgêsipun dados têgês punika dhawah wdangka kalih, utawi namung nututi. Sasana sastra manawi kanalar têgêsing têmbungipun
Ha// sagêd atêgês : sêrat piwulang. Sastra kang isi sasana.
Sastra=kitab sêrat wawaton juru mulang. sasana=piwulang.
Na// Kénging dipun têgêsi: ênggén sastra, utawi: kanggé wadhah sastra. Sastra ingriku katêgêsan: basa, kawruh bab basa, basa édi. Sasana= Asana, pangnanggahan papan kados tahing têmbang singgasana = singa asana, pangnanggah aning singa.
      //Sêrat sana sunu tilaranipun pujangga agêngka iyasadira, punika wêtahipun: sasana sunu. Atêgês piwulang mraping anak, manawi kaurutakên makatên sasana sastra inggih sagêd atêgês: piwulang tumraping basa, punapa tumrap ing tulis,
// ing têmbang-têmbang jawi kadosta: sana séwaka, sana suméwa, sana prabu, sasana mulya, sasana suka, sasana mudha, tirtasah saking sasana, punika sana utawi sasana sami sampun atêgês piwulang agama Budha.
//Sasana sastra damêlan saha gadahipun tiyang kalih, Yasasidagda Adiwijaya, punika, nadyan aksara jawi, mugi kalampah ana dados sêrat cap-capan kanggé nyampédika kabêtahan,
//Yogyakarta 1 Désémbêr 1952. salam dari Tyas Haryadi, Sang Penggembala.... ^_^

24 Dec 2011

Jenis Kepemimpinan ala Jawa

       Ing ngandhap kados pundi lampahing para pemimpin saking ular-ularing para sarjana sujana ing jaman kina. Kula pendhetaken saking lampahan ringit purwa “Wahyu Makutharama, wahyu pikukuhing praja”, anggitan Ki Siswaharsaya. Ing lampahan ringgit purwa piwulangipun Begawan Kesawasidhi dhumateng Arjuna, ingkang mendhet piwulangipun Prabu Ramawijaya dhumateng Gunawan Wibisana, nalika sinengkakaken winisuda dados ratu ing negari Ngalengkadiraja anggentosi kalenggahanipun Prabu Dasamuka. 
Dene wijang-wijangipun kados makaten:
1.
Laku hambeging kisma : Lire tansah murah marang sapa bae kang nyuwun den murahi. Amarga kisma iku tansah ngatonake dedanane. Tanem tuwuh cecukulan minangka bogane sagung dumadi, ora liya saka wulu wetuning bantala. Sanadyan anggane pinulasara ing janma, pinaculan, dhinudhukan, parandene kisma malah ngatonake kamurahane. Mas, sesotya, pepelikan warna-warna dadya kaskayane kang mulasara.
2.
Laku hambeging tirta : Lire : tindak anorraga, lumuh ngungkul-ngungkuli, tan ngendhak gunaning janma. Jer tirta ikui tansah watak warata tur ta dayane anggung ngasrepi dadya usadaning katoran.
3.
Laku hambeging samirana : Lire : tansah naliti sanggya sasana. Tumrap lelabuhaning Nata, tansah niti priksa marang kawula dasih, suker sakit kinawruhan sarana talaten atul. jer lakuning samirana iku anggung nusupi sanggya sasana.
4.
Laku hambeging samodra : Lire : jembar miwah sabar ing panggalih. Kamot momoting panggalih, kapanduking suka kingkin sasadone ingadu manis, datan jujul datan surut lamun kataman ing sak serik sameng dumadi. Jer samodra iku sanyata anglangut tanpa tepi, Kajogan sarah prabatang miwah tirtaning narmada pira-pira, parandene ora sesak ora luber.
5.
Laku hambeging candra : Lire tansah madhangi saindenging bawana. Tumrap lelabuhaning ratu, tansah mamardi pangawikan lan kagunan marang kawula dasih sarana wulanging dwija. Sogata samurwating dununge. Kutha desa sanadyan lengkehing wukir, sadrajat sapangkat padha sinungan pamardi putra.
6.
Laku hambeging baskara : Lire : tansah aweh daya kekiyatan marang sanggya gumelaring jagad, segara nguwab dadi mendhung temah dadi udan, ora liya saka dayane raditya, Bumi mekar nuwuhake thethukulan, iya marga saka kadayang sunaring baskara. Tumrap lelabuhaning ratu, anggung paring kekiyatan marang kawula dasih. Nagkoda, nara kisma, nara karya kang kasekengan, padha antuk sihing nata minangka pawitan. Sanadyan ing tembe kudu nyaur, nanging sarana sarenti sawise ngundhuh wohing karya.
7.
Laku hambeging dahana. Lire : angrampungi. Ora ana sawiji-wiji kang ora lebur dening dahana. Tumrap lelabuhaning nata, pangwak pradata luhur. Sakabehing prakara kang konjuk ngarsa Nata, kudu rampung paripurna kang pinancas kanthi adil paramarta.
8.
Laku hambeging kartika. Hambeg kartika, uga sinebut hambeg wukir. Lire teguh santosa. Sanadyan sinerang maruta sindhung riwut, parandene bayu bajra malah piyak nganan ngering labet kasor prabawa lan adeging wukir. Tumrap lelabuhaning Nata, sabarang kang wus dhumawah, kudu tetep tumindak tan kena.

maturnuwun, mugi-mugi migunani damel sedaya, salam saking Sang Penggembala, Tyas Haryadi.... ^_^

22 Dec 2011

The Legend of Java

The Legend of Java.
       The domain of Nyi Loro Kidul, the legendary queen of the South Seas, is Parangtritis in Central Java. Her hair is green and full of shells and seaweed, and, she holds court over sea nymphs and other creatures of the deep. She is venerated and feared by the Javanese. In fact, they never wear the colour green when entering the sea for fear of offending Nyi Loro Kidul whose hair is green!. 
       ‘The legend of Nyi Roro Kidul herself is very popular. Before turning into a nymph,Nyai Roro Kidul was a young princess named Dewi Kandita, the daughter of King Mundangwangi and his first wife. The popularity of Dewi Kandita and her mother Dewi Rembulan was beyond doubt. They were known for their beauty, kindness and friendliness, and people loved them.
        However, the misery of their lives began when Dewi Mutiara, another wife of King Mundangwangi, known locally as selir, became green with envy and grew ambitions to become the first wife, thereby deserving full affection and attention from the king.
        Dewi Mutiara’s dream came true when one day she bore the son that the king had long been yearning for. Through the assistance of a witch, Dewi Mutiara made the king’s wives Dewi Rembulan and Dewi Kandita suffer from ’strange’ disease, with their bodies covered with scabies that created the odour of fish. The disease led them to be sent into exile in the forest where later Dewi Rembulan died. After a long, hard and helpless journey, the scabies-covered Dewi Kandita eventually arrived at a beach where she met a young, handsome man who promised to cure her illness.
         At the request of the young man, Dewi Kandita chased after him as he ran along the beach. When she reached the water, the man disappeared and, to her surprise, all the scabies had disappeared but, strangely, she could not move her legs. Half her body, from the waist down, had turned into the body of a fish.
Since then she became a sea-nymph, and the locals believe that Nyi Roro Kidul is the manifestation of Dewi Kandita’ by, Sang Penggembala, Tyas Haryadi... ^_^

10 Dec 2011

Raja-raja tanah jawa

Pakubuono X beserta istri.
       Jika kita menilik daerah jawa yang dahulu sangat kental dengan budaya jawa, tentu kita akan membutuhkan beberapa hal yang berkaitan dengan itu semua. Salah satu yang perlu kita ketahui atau minimal sebagai referensi adalah Raja-raja yang dahulu pernah mengusai tanah jawa. Siapa sajakah mereka itu? Demikianlah sebagian besar Raja-raja itu beserta tahun pemerintahan, kerajaan serta dinastinya :

Dinasti Syailendra
Bhanu (752-775)
Wisnu (775-782)
Indra (782-812)
Samaratungga (812-833)
Pramodhawardhani (833-856), menikah dengan Rakai Pikatan (Dinasti Sanjaya)
 
Dinasti Sanjaya
Sanjaya (732-7xx)
Rakai Panangkaran (tidak diketahui)
Rakai Patapan (8xx-838)
Rakai Pikatan (838-855), mendepak Dinasti Syailendra
Rakai Kayuwangi (855-885)
Dyah Tagwas (885)
Rakai Panumwangan Dyah Dewendra (885-887)
Rakai Gurunwangi Dyah Badra (887)
Rakai Watuhumalang (894-898)
Rakai Watukura Dyah Balitung (898-910)
Daksa (910-919)
Tulodong (919-921)
Dyah Wawa (924-928)
Mpu Sindok (928-929), memindahkan pusat kerajaan ke Jawa Timur (Medang)
 
Medang
Mpu Sindok (929-947)
Sri Isyanatunggawijaya (947-9xx)
Makutawangsawardhana (9xx-985)
Dharmawangsa Teguh (985-1006)
 
Kahuripan
Airlangga (1019-1045), mendirikan kerajaan di reruntuhan Medang
(Airlangga kemudian memecah Kerajaan Kahuripan menjadi dua: Janggala dan Kadiri)
Janggala
(tidak diketahui silsilah raja-raja Janggala hingga tahun 1116)
Kediri
(tidak diketahui silsilah raja-raja Kadiri hingga tahun 1116)
Kameswara (1116-1135), mempersatukan kembali Kadiri dan Panjalu
Jayabaya (1135-1159)
Rakai Sirikan (1159-1169)
Sri Aryeswara (1169-1171)
Sri Candra (1171-1182)
Kertajaya (1182-1222)
Singhasari
Ken Arok (1222-1227)
Anusapati (1227-1248)
Tohjaya (1248)
Ranggawuni (Wisnuwardhana) (1248-1254)
Kertanagara ( 1254-1292)
 
Majapahit
Raden Wijaya (Kertarajasa Jayawardhana) (1293-1309)
Jayanagara (1309-1328)
Tribhuwana Wijayatunggadewi (1328-1350)
Hayam Wuruk (Rajasanagara) (1350-1389)
Wikramawardhana (1390-1428)
Suhita (1429-1447)
Dyah Kertawijaya (1447-1451)
Rajasawardhana (1451-1453)
Girishawardhana (1456-1466)
Singhawikramawardhana (Suraprabhawa) (1466-1474)
Bhre Kertabhumi (Brawijaya) (1468-1478)
Girindrawardhana (1474-1519)
 
Demak
Raden Patah (1478 – 1518)
Pati Unus (1518 – 1521)
Sultan Trenggono (1521 – 1546)
Sunan Prawoto (1546 – 1561)
        Pajang
Jaka Tingkir, dikenal juga sebagai Sultan Hadiwijoyo (1561 – 1575?)
        Mataram Islam 
Ki Ageng Pemanahan, menerima tanah perdikan Mataram dari Jaka Tingkir
Panembahan Senapati (Raden Sutowijoyo) (1575 – 1601)
Sunan Prabu Hanyakrawati (1601 – 1613), dikenal juga sebagai Sunan Seda Krapyak
Sultan Agung (Prabu Hanyakrakusuma) (1613 – 1645)
Amangkurat I (1645 – 1677), dikenal juga sebagai Sinuhun Tegal Arum
Amangkurat II (1677 – 1703)
Amangkurat III (1703 – 1705)
Pakubuwana I (1705 – 1719), dikenal juga sebagai Sunan Puger
Amangkurat IV (1719 – 1727), memindahkan istana ke Kartasura
Kasunanan Surakarta
Pakubuwana II (1727 – 1749), memindahkan kraton Kartasura ke Surakarta pada tahun 1745
Pakubuwana III (1749 – 1788)
Pakubuwana IV (1788 – 1820)
Pakubuwana V (1820 – 1823)
Pakubuwana VI (1823 – 1830), juga dikenal dengan nama (Pangeran Bangun Tapa)
Pakubuwana VII (1830 – 1858)
Pakubuwana VIII (1859 – 1861)
Pakubuwana IX (1861 – 1893)
Pakubuwana X (1893 – 1939)
Pakubuwana XI (1939 – 1944)
Pakubuwana XII (1944 – 2004)
Pakubuwana XIII (Tedjowulan) (2005-sekarang)
Kasultanan Yogyakarta
Hamengkubuwana I (Sultan Mangkubumi) (1755 – 1792)
Hamengkubuwana II (1793 – 1828)
Hamengkubuwana III (1810 – 1814)
Hamengkubuwana IV (1814 – 1822)
Hamengkubuwana V (1822 – 1855)
Hamengkubuwana VI (1855 – 1877)
Hamengkubuwana VII (1877 – 1921)
Hamengkubuwana VIII (1921 – 1939)
Hamengkubuwana IX (1939 – 1988)
Hamengkubuwana X (1988 – sekarang)
Kadipaten Mangkunegaran
Mangkunagara I (Raden Mas Said) (1757 – 1795)
Mangkunagara II (1796 – 1835)
Mangkunagara III (1835 – 1853)
Mangkunagara IV (1853 – 1881)
Mangkunagara V (1881 – 1896)
Mangkunagara VI (1896 – 1916)
Mangkunagara VII (1916 -1944)
Mangkunagara VIII (1944 – 1987)
Mangkunagara IX (1987 – sekarang)
Pakualaman
Paku Alam I (1813 – 1829)
Paku Alam II (1829 – 1858)
Paku Alam III (1858 – 1864)
Paku Alam IV (1864 – 1878)
Paku Alam V (1878 – 1900)
Paku Alam VI (1901 – 1902)
Paku Alam VII (1903 – 1938)
Paku Alam VIII (1938 – 1998)
Paku Alam IX (1998 – sekarang)
Demikianlah nama-nama Raja beserta masa jabatan + kerajaan, semoga bermanfaat, salam dari Sang Penggembala, Tyas Haryadi…. ^_^

8 Dec 2011

Mengenal Sastra Jawa Kuno

       Sastra Jawa Kuno atau seringkali dieja sebagai Sastra Jawa Kuna meliputi sastra yang ditulis dalam bahasa Jawa Kuna pada periode kurang-lebih ditulis dari abad ke-9 sampai abad ke-14 Masehi, dimulai dengan Prasasti Sukabumi. Karya sastra ini ditulis baik dalam bentuk prosa (gancaran) maupun puisi (kakawin). Karya-karya ini mencakup genre seperti sajak wiracarita, undang-undang hukum, kronik (babad), dan kitab-kitab keagamaan. Sastra Jawa Kuno diwariskan dalam bentuk manuskrip dan prasasti. Manuskrip-manuskrip yang memuat teks Jawa Kuno jumlahnya sampai ribuan sementara prasasti-prasasti ada puluhan dan bahkan ratusan jumlahnya. Meski di sini harus diberi catatan bahwa tidak semua prasasti memuat teks kesusastraan.
        Karya-karya sastra Jawa penting yang ditulis pada periode ini termasuk Candakarana, Kakawin Ramayana dan terjemahan Mahabharatada dalam
bahasa Jawa Kuno. Karya sastra Jawa Kuno sebagian besar terlestarikan di Bali dan ditulis pada naskah-naskah manuskrip lontar. Walau sebagian besar sastra Jawa Kuno terlestarikan di Bali, di Jawa dan Madura ada pula sastra Jawa Kuno yang terlestarikan. Bahkan di Jawa terdapat pula teks-teks Jawa Kuno yang tidak dikenal di Bali.
        Penelitian ilmiah mengenai sastra Jawa Kuno mulai berkembang pada abad ke-19 awal dan mulanya dirintis oleh Stamford Raffles, Gubernur- Jenderal dari Britania Raya yang memerintah di pulau Jawa. Selain sebagai seorang negarawan beliau juga tertarik dengan kebudayaan setempat. Bersama asistennya, Kolonel Colin Mackenzie beliau mengumpulkan dan meneliti naskah-naskah Jawa Kuno.
Mengenai istilah Jawa Kuno
         Istilah sastra Jawa Kuno agak sedikit rancu. Istilah ini bisa berarti sastra dalam bahasa Jawa sebelum masuknya pengaruh Islam atau pembagian yang lebih halus lagi: sastra Jawa yang terlama. Jadi merupakan sastra Jawa sebelum masa sastra Jawa Pertengahan. Sastra Jawa Pertengahan adalah masa transisi antara sastra Jawa Kuno dan sastra Jawa Baru. Di dalam artikel ini, pengertian terakhir inilah yang dipakai.
        Tradisi penurunan Sastra Jawa Kuno yang terlestarikan sampai hari ini sebagian besar diturunkan dalam bentuk naskah manuskrip yang telah disalin ulang berkali-kali. Sehingga mereka jarang yang tertulis dalam bentuk asli seperti pada waktu dibuat dahulu, kecuali jika ditulis pada bahan tulisan yang awet seperti batu, tembaga dan lain-lain. Prasasti tertua dalam bahasa Jawa Kuno berasal dari tahun 804, namun isinya bukan merupakan teks kesusastraan. Teks kesusastraan tertua pada sebuah prasasti terdapat pada Prasasti Siwagreha yang ditarikh berasal dari tahun 856 Masehi. Sedangkan naskah manuskrip tertua adalah sebuah naskah daun nipah yang berasal dari abad ke-13 dan ditemukan di Jawa Barat. Naskah nipah ini memuat teks Kakawin Arjunawiwaha yang berasaldari abad ke-11.
Tinjauan umum
         Banyak teks dalam bahasa Jawa Kuno yang terlestarikan dari abad ke-9 sampai abad ke-14. Namun tidak semua teks-teks ini merupakan teks kesusastraan. Dari masa ini terwariskan sekitar 20 teks prosa dan 25 teks puisi. Sebagian besar dari teks-teks ini ditulis setelah abad ke-11.
Puisi Jawa lama
Daftar Karya Sastra Jawa Kuno dalam bentuk prosa :
1.Candakarana
2.Sang Hyang Kamahayanikan
3.Brahmandapurana
4.Agastyaparwa
5.Uttarakanda
6.Adiparwa
7.Sabhaparwa
8.Wirataparwa, 996
9.Udyogaparwa
10.Bhismaparwa
11.Asramawasanaparwa
12.Mosalaparwa
13.Prasthanikaparwa
14.Swargarohanaparwa
15.Kunjarakarna
 
Candakarana
         Candakarana adalah semacam kamus atau bisa juga disebut ensiklopedia Jawa Kuna dan versinya yang paling awal kira-kira ditulis pada abad ke-8 Masehi.
Para pakar menduga periode yang sangat awal ini karena kitab ini memuat nama Syailendra. Sedangkan raja Syailendra yang membangun candi Borobudur ini diperkirakan memerintah pada akhir abad ke-8 Masehi.
 
Sang Hyang Kamahayanikan
          Sang Hyang Kamahayanikan adalah sebuah karya sastra dalam bentuk prosa. Di bagian belakang disebut nama seorangraja Jawa, yaitu Mpu Sendok, yang bertakhta di Jawa Timurmulai dari tahun929 sampai tahun 947 Masehi.isinya mengenai pelajaran agama Buddha Mahayana. Kebanyakan mengenai susunan perincinan dewa-dewa dalam mazhab Mahayanaan kerapkali cocok dengan penempatan raja-raja Buddha dalam candi Borobudur. Selain itu ada pula tentang tatacara orang bersamadi.
 
Brahmandapurana
         Brahmandapurana adalah sebuah karya sastra Jawa Kuna berbentuk prosa. Karya sastra ini tidak memuat penanggalan kapan ditulis dan oleh perintah siapa. Tetapi dilihat dari gaya bahasa kemungkinan berasal dari masa yang sama dengan Sang Hyang Kamahayanikan. Namun ada perbedaan utama, yaitu Sang Hyang Kamahayanikan adalah kitab kaum penganut agama Buddha Mahayana sedangkan Brahmandapurana ditulis untuk dan oleh penganut agama (Hindu) Siwa.
I         sinya bermacam-macam, seperti cerita asal-muasalnya dunia dan jagatraya diciptakan, keadaan alam, muncul empat kasta (brahmana, ksatria, waisya dan sudra), tentang perbedaan tahap para brahmana (caturasrama) dan lain-lain.
 
Agastyaparwa
         
Agastyaparwa adalah sebuah karya sastra Jawa Kuna berbentuk prosa. Isinya mirip Brahmandapurana. Meski Agastyaparwa tertulis dalam bahasa Jawa Kuna, namun banyak disisipi seloka-seloka dalam bahasa Sansekerta.
Isinya mengenai hal-ikhwal seorang suci yang disebut sang Dredhasyu yang berdiskusi dan meminta pengajaran kepada ayahnya sang bagawan Agastya. Salah satu hal yang dibicarakan adalah soal mengapa seseorang naik ke surga atau jatuh ke neraka.
 
Uttarakanda
          Uttarakanda adalah kitab ke-7 Ramayana. Diperkirakan kitab ini merupakan tambahan. Kitab Uttarakanda dalam bentukprosa ditemukan pula dalam bahasa Jawa Kuna. Isinya tidak diketemukan dalam Kakawin Ramayana. Di permulaan versi Jawa Kuna ini ada referensi merujuk ke prabu Dharmawangsa Teguh.
Isi
• Cerita Rahwana
o Terjadinya para raksasa, nenek moyang Rahwana atau
Rawana
o Cerita Serat Arjunasasrabahu
• Cerita Dewi Sita
o Pembuangan Sita di hutan, karena sudah lama tidak di sisi
Rama
o Kelahiran Kusa dan Lawa di pertapaan di hutan
o “Kematian” Sita Adiparwa
Adiparwa (Sansekerta ) adalah buku pertama atau bagian (parwa) pertama dari kisahMahabha rata. Pada dasarnya bagian ini erisi ringkasan keseluruhan cerita Mahabharata, kisah-kisah mengenai latar belakang ceritera, nenek moyang keluargaBhara ta, hingga masa muda Korawa danPandawa). Kisahnya dituturkan dalam sebuah cerita bingkai dan alur ceritanya meloncat-loncat sehingga tidak mengalir dengan baik. Penuturan kisah keluarga besar Bharata tersebut dimulai dengan percakapan antara Bagawan Ugrasrawa yang mendatangi Bagawan Sonaka di hutan Nemisa
         Itulah sedikit tentang Sastra jawa kuno, yang saya referensi dari Wikipedia. Semoga bermanfaat lan migunani dumateng kula lan pajenengan sedoyo. Salam saking Sang Penggembala, Tyas Haryadi…. ^_^

10 Sept 2011

Antropologi Bahasa dan Budaya Jatim.

Duta Bahasa & budaya jatim
       Indonesia pada umumnya memiliki kenekaragaman, baik sastra, bahasa & juga budaya. itu sebabnya negeri ini punya slogan "bhineka tunggal ika."
       begitu pula dengan jawa timur, memiliki banyak variasi bahasa dan budaya. sehingga miniatur indonesiapun juga bisa dilihat disini...
       di jawatimur, bahasanya terbagi menjadi beberapa wilayah. bisa dibedakan berdasarkan wilayahnya. mulai dari barat....
ada basa jawa kulonan, yaitu karisidenan madiun & Kediri plat AE dan AG (meliputi magetan, pacitan, ngawi, ponorogo, madiun, kediri, nganjuk, galek, blitar, Tulung Agung)
daerah ini terpengaruh oleh bahasa jawa milik kerajaan mataram baru, yang sekarang pecah menjadi kasultanan & kasunanan (Jogjakarta & surakarta)
bahasa di daeraha sini, terkesan lebih lembut, kalem, tak suka to do poin, bertele-tele tapi anak di dengar"logat pendongeng"... :D
bergerak ke daerah karisidenan Malang, bahasa masih bahasa jawa, tapi etanan. yaitu bahasa yang sudah dimodifikasi sesuai kerakteristik masyarakatnya.
di karisidenan plat N ini, meliputi malang, lumajang, pasuruan, probolinggo. juga banyak yang menggunakan bahasa madurnya, meski terkontaminasi dengan bahasa jawa juga.
bahasa malangan atau ngalam, adalah bahasa walikan. atau bahasa dengan kosa kata dibolak-balik, bukan dibaca dari belakang...
bahasa daerah ini lebih simple, to do point, bahkan semakin berkembang ke bahasa ringkas. ini juga mencerminkan masyakatnya...
bahasa ngalam ini menekankan kata2 yg mudah didengar ketika dibolak-balik, bukan dibaca dr belakang. misal: ==>
MALANG, seharusnya dibaca menjadi GNALAM jika dibaca dari belakang, tetapi karena dibalik jadi NGALAM, lebih enak didengar bukan?
simple yang dimaksud juga bisa qt lht, misal : ==> jika orang yg menggunakan bs jawa kulonan bertanya "sudah selesai atau belum" dengan...
"wis rampung opo durung?" ini lebih ramah, maka orang plat N berkata "mari a?",
bergeser ke jawatimur bagian plat L, memang seharusnya hanya surabaya, tapi kali ini saya rangkum jadi satu dengan darjo plat W (sidoarjo, gresik)
bahasa yang lebih simple dan lebih to do poin ada disini, kasar juga bisa dikatakan begitu (jika yang berbicara jawa kulonan).
bahasanya terkenal dengan dialeg suroboyoan, sampai2 ada filmx"grammer suroboyo"
bahasa daerah ini memiliki beberapa ciri khas, dengan sebutan arek (utk memanggil anak muda), kon (utk kamu), walaupun dimalang juga ada
khasnya adalah "pisuhan" kata jorok, ini menjadi sangat wajar & lazim digunakan. bahkan media sapa yang sangat dijunjung sebagai identitas...
seperti kata dancok, gatel, asu, dan lain sebagainya. mereka sangat enjoy dan inilah style bahasa suroboyoan, kasar tapi berhati halus (orangnya).
lalu berlanjut ketika bertanya "dimana?" orang kulonan "neng ndi saiki?" orang ngalam "nang ndi saiki?" orang suroboyoan "no ndi kon?"
sekarang berlanjut ke pantura, disini kita membahas daerah plat S dan sekitarnya, saya kurang paham mengenai platnya. :D
meliputi lamongan, tuban, bojonegoro, mojokerto, ada yg ketingalan tadi jombang, bisa masuk sini dah.. karena juga memakai plat S, setempat dengan lamongan
bahasa di daerah ini memang lebih terkesan campuran, antara basa jawa kulonan dan etanan. sehingga membuat identitas sendiri...
memiliki keramahan dalam kekasarannya, memiliki to do point dlm ke tele-teleannya. seperti identitas orangnya mampu menempatkan diri...
ini pernah sy amati ketika teman asal lamongan saya, namanya asas. berkata tentang beberapa hal mulai "lapo sih, jenengan gus?"
logat etanan "lapo sih" ditambah logat kulonan "jenengan gus?", dari bahasa lamongan lebih sering memiliki makna dari basa etan + kulon.
terlebih kata2 ringkas ketika bertanyapun lebih padat berisi,menanyakan sekarang ada dimana cukup dg "posisi". ini sering terjadi di sms...
memanggil kawula mudapun juga memiliki ciri khas, yaitu dengan panggilan "nak". ini terkadang saya gunakan juga untuk memanggil orang lain.
tentunya yang lebih muda atau seumuran adik saya, sehingga terkadang saya dipanggil pi (untuk papi), ataupun ayah. *tampang masih 17th padahal,,, :D
berlanjut ke daerah madura 2, yaitu daerah ujung timur pulau jawa. meliputi besuki, bondowoso, situbondo, jember banyuwangi...
kenapa daerah plat P ini saya katakan Madura 2? krn memang cukup banyak masyarakat madura yang menempati daerah ini. walaupun juga ada jawanya
karena di sekolah2, kebanyakan menggunakan bahasa jawa, ini cerita teman. bahasa yang digunakan adalah bahasa jawa terkontaminasi madura
ataupun sebaliknya, kalau bahasa jawax, menggunakan bahasa jawa kulonan, walaupun tidak kulon2 banget, tapi tak terkesan etanan.
seperti ketika ada kakak semester atas dari banyuwangi datang ke tempat saya, beliau menggunakan kata2 dengan logat kulonan walaupun belum terlalu..
pas dengan dilaeg kulonan, misal kata2 "anda", dalam bs kulonan tak mengenal kata "pean" (digunakan masx), karena masih tetap utuh "sampean"
begitu juga dengan teman-teman saya yang berasal dari jember, situbondo, juga menggunakan bahasa jawa kulonan yang halus. walaupun ada embel2 cak, dll
sehingga pemahamannya masih mudah, karena qt masih satu bangsa serta satu pemahaman...
untuk masyarakat madurapun juga ada variasi dalam berbahasanya. yaitu perbedaan dialeg dari satu daerah ke daerah lainnya...
ini juga berpengaruh ke Madura 2, seperti situbondo. daerah ini lebih condong ke sumenep, karena daerahnya satu garis bujur, serta...
ada perahu penyebrangan dari sumenep menuju daerah ini, tepatnya di pelabuhan yang saya lupa namanya, tetapi berada diperbatasan banyuwangi
disini akan ada kapal yang sehari dua kali berangkat, baik dari sumenep ke situbondo atau sebaliknya... sehingga intensitas interaksi tinggi.
kalau berbicara logat "madureh, engkok tak ngerteh." sy jg belum pengalaman tinggal lama dimadura apalagi nikah sm orang madura.. :D
yang pasti, dalam bahasa madura jg ada variasi dan pelangi penghias indahnya bahasa. seperti penggunaan bahasa yang lebih halus dan biasa..
dalam basa jawa dikenal dengan ngoko dan krama, seperti "njek" yg memiliki arti tidak, digunakan oleh orang desa Madura2 dengan "ten" atau "enten"
ketemu, nama pantainya tanjung jangkar kawan, daerah situbondo, 3jm menuju ketapang banyuwangi... :)
dan berlanjut, kata-kata "ya" dalam madura jg dlm dua versi, "nggi" dan "enggi", tapi dengan "g" kedua dibaca mirip "k"..
yang terakhir adalah bahasa madura di pulau madura1, dan disini mayoritas adalah bahasa madura. walaupun saya juga pernah nemui orang berbasa jawa
di daerah plat M ini meliputi, bangkalan, pamekasan, sampang & sumenep. hanya 2 daerah yang baru saya kunjungi, bangkalan dan sampang...
memang hanya dalam waktu singkat, tak ada seminggu, hanya beberapa malam dan sendirian... :D
yang saya pahami, jawa dan madura masih satu rumpun. satu daerah, dan dulunya satu pulau, sebelum adanya pemanasan suhu bumi.
yang digunakanpun adalah aksara jawa, tapi semua huruf vokalnya dibaca "a", yg seharusnya dibaca "o" menurut kaedah basa jawa...
misal seperti saya bilang tadi dengan kata2 "nten" sebernarnya dari "mboten", "enggi" dr kata "nggih", dan "sampean" msh sama bukan?hanya logatx
sedikit-sedikit jika dalam bahasa jawa "sekedik-sekedik", maka dalam madura dimaknai "nik-sekonik". saya kurang paham pemadanannya, yang penting..
belakangnya masih sm2 "ik"... :D, dan insyaAllah saya punya niatan belajar langsung ke madura dalam kurung beberapa waktu...
demikian singkat tentang indahnya bahasa jawatimur, yg juga memiliki pengaruh ataupun dipengaruhi oleh budaya masyarakatnya...
semoga bermanfaat utk semua, kalau bukan qt orang jawatimur yang cinta bahasa dan budayanya, siapa lagi?
indahnya sebuah bahasa & budaya bukan pada skala ukuran atw prestasi, tp seberapa cinta sang pemilik bahasa dan budaya itu sendiri... :)
sekian presentasi dr sy kawan, tentang bahasa & budaya jawa timur, itung2 sebagai pemanasan... :D
Duta Bahasa dan Budaya Jawa timur tgl 14 sep ‘11, mohon doanya… salam dari Sang Pengembala, Tyas Haryadi... ^_^

2 Jun 2011

Lagu kanak-kanak jawa, mengenang masa kecil

Anak2 bermain di senjahari.
       Sak wantawes wedal, lagu-lagu jawa wis wiwit kalalekake. Apa meneh lague gawe bocah cilik, mulai dak lalekake lan pada ora weruh. Eling wayah isih cilik mbiyen, lagu gajah-gajah, kucingku telu, gundul-gundul pacul, cublek-cublek sueng, lan sak piturute tansah akeh lan bagus-bagus. Menika salah sawijine lagu-lagu bocah cilik kang iso take mot lan bisa dadi pelipure kangen kahanan cilik mbiyen.
        Salah sawijine yoiku “gajah-gajah”:
“ gajah-gajah, kowe tak kandani jah,
mripat kaya laron, suing loro kuping gedhe.
Tansah nganggo tlale jah, buntut cilik, tansah kopat-kapit.
Sikil kaya bumbung, sikil kaya bumbung, mung mlakumu megal-megol.”
        Ana meneh “kucingku telu”:
“Kucinku telu, kabeh lemu-lemu.
Sing siji abang, sing loro klawu.
Meang-meong, tak pakani lontong.
Atiku seneng, kancaku domblom.”
        Lan ana uga lagu “gundul-gundul pacul”:
“gundul-gundul pacul cul gembelengan,
Nyunggi-nyunggi wakul-kul gembelengan,
Wakul numplek segane dadi sak ratan,
Wakul numplek segane dadi sak ratan.”
        Sing tak eling meneh yaiku “cublek-cublek sueng.”:
“cublek-cublek sueng, suenge teng gelenter,
Tak gendo leya-leyo sapa guyu ndelekake,
Sir sir pong dele kopong, sir sir pong dele kopong.”
        Endah tenan lagu-lagu jawa iku, sumongga kita lestarekake budaya jawa, salah sawijine yaiku basa jawa lan lagu jawa. Muga-muga ana faedahe gawe kita sedaya… amin, saking peweneh warna, tyas haryadi. ^_^

23 May 2011

Aksara jawa, basa sing kalalekake.

Aksara Jawa dan pasangannya.
       Salah sawijine pratondo diajeni bangsa atawa suku yaiku saka basa, sumana uga bangsa jawa. Para kanca, kula salah sawijineng lare sing remen lan prihatin marang Aksara jawa, sing saya kekikis kemajuane jaman. Bocah-bocah enom luwih seneng geguneman anggawe basa gaul utawa basa inggris lan pada lali marang basane dewe. Apa meneh karo Aksara jawa, akeh basa sing mlebu menyang Indonesia lan ngilangi bebudayan ngomong, nulis, lan anggawe apa bae anggawe basa lan aksara jawa.
        Apa meneh saiki teknologi wis okeh sing anggawe basa inggris, basa inggris kabeh sing luwih tepak. Hananging iku gak gawe kurang semangate para bocah enom sing tresna marang budaya, basal an aksara jawa. Sumono uga kaya aku sing belajar nulis nganti basa jawa, lan dak ucapake saben dinane, lan usaha ake sripsi anggawe aksara jawa. Ora mergo jurusan sastra jawa, hananging amarga tresna marang basa jawa.
        Sumangga para pemuda lan pemudi ing tlatah jawa, kanti sareng-sareng bangun kabudayan jawa tumrap lingkungan sak kiwa tengene dewe. Supaya basa lan aksara jawa nggak dadi basa sing dilalekake, hananging dadi basa kang sering digawe, marang adicara kang penting ugi. Kayata ana Koran kusus gawe basa jawa, sajane kahanan koyo ngono iku dibutuh ake masyarakat lan gawe ngembangake budaya nulis jawa tumrap wang jawa. Saiki ya wis ana televisi lan radio sing nyiarake adicara anggawe basa jawa. Iku bantu anae panggawean basa jawa ing saben dino.
        Lan aksara jawa iku sumono uga, aksara kang kaisi saka “ha, na, ca , ra, ka, da, ta, sa, wa, la, pa, da, ja, ya, nya, ma, ga, ba, tha, nga.” Iki wis dadi barang langka. Kalah karo basa inggris, bocah-bocah cilik malah luwih paham basa inggris tinimbang aksara jawa iku dewe. Sumonggo para pawasta, lan para pamiarso blog tyasharyadi.blogspot.com pada-pada ngangsu kawruh aksara jawa lan digawe marang sabendino. Muga-muga migunani, amin… ^_^
sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com