Showing posts with label Hunting Jawa Tengah. Show all posts
Showing posts with label Hunting Jawa Tengah. Show all posts

25 Mar 2011

Melirik Indahnya Yogyakarta, edisi hunting jateng.

       Berlanjut di edisi hunting jateng, kali ini saya akan membahas ketika melakukan perjalanan di Jogjakarta. Setelah selesai dari semarang kami melanjutkan perjalanan ke jogja lewat magelang, yang dikabarkan kemarin terkena banjir lahar dingin. Alhamdulillah, ketika kami lewat sana sudah dikeruk dan sudah bisa dilewati walaupun tumpukan pasir dan material masih ada di kanan kiri jalan. Rumah-rumah terkubur dengan pasir yang bercampur dengan batu-batu besar, bahkan sungaipun juga habis ditutupi material lahar ini. Jalan-jalan menjadi rusak parah, padahal sebelum kami sampai di area ini jalannya mulus kawan. Mau macu kendaraan seperti disirkuitpun bisa, licin jalannya, sayang ini semua mengalahkan kesadaran akan kehijauan, sehingga sekitar daerah ini sepi dengan tanaman. Kami beristirahat jam duaan untuk solat duhur sekaligus kami sampaikan ashar, karena jogja sudah dekat sementara pantat kami belum mau untuk diajak nekat.
       Dalam perjalanan tiga hari ini, benar-benar pom bensin jadi kos-kosan kami. Memberi tempat perlindungan dari panas dan hujan, memberi kesempatan untuk kusyuk beribadah serta kusyuk tidurnya. Serta memberikan tempat MCK gratis, tidak jarang juga saya dan asas minum toya petak (air putih) untuk obat dahaga. Kami melanjutkan perjalanan ke jogja, waktu menunjukan 17.02 ketika kami membaca tulisan salamat datang di Yogyakarta. Hati menjadi berbunga-bunga kawan, lebih berbunga-bunga daripada dapat kekasih atau apapun. ^_^,,, setelah sampai di kota ini, kami putar-putar dulu, melihat keraton, malioboro, dan fasilitas trans jogja. Subhanallah, tatanan kota nan unik dan indah, ini Indonesia kawan. Tetapi kemacetan tetap menjadi masalah sebagian kota besar negeri ini termasuk jogja. Malam itu kami mampir dulu ke masjid kampus UIN sunan kalijaga, subhanallah, bagus juga itu masjid tapi lebih bagus masjid UIN maliki malang. Itu juga yang saya katakana ke temen di sana, seperti itu juga ketika membahas kampusnya.
        Malam harinya kami disambut dengan ayam bakar, sangat tepat juga ni mumpung lagi lapar dan lagi kehabisan duit. Ni juga berkahnya silaturohmi kawan, malamnya kami tidur di pesantren mahasiswa milik seorang habib (keturunan rasulullah), lupa namanya. Alhamdulillah bisa buka facebook juga untuk update pengalaman, dan bisa tidur nyenyak, plus solat jama’ah bersama santri-santri lain. Pagi-pagi kami bersiap untuk melakukan perjalanan ke paris (parang tritis), sebelum berangkatpun kami dikasih sarapan, Alhamdulillah. Sebenarnya tidak enak, tapi ini juga rejeki, semoga sering-sering saja.hehe,,, buat teman-teman di UIN jogja, yang menjamu kami dan semua mahasiswa disana, terimakasih banyak. Barokallah kawan, kapan-kapan main ke malang, kami siap jadi guide. Begitu pula redaksi yang saya ucapkan kepada mereka, kurang lebih.
        Setelah memperhatikan peta (salah satu tips melakukan hunting), kami sudah bisa membuat analogi dan juga algoritma perjalanan kali ini. Berangkat melalui ringroad jalur timur kami menuju ke parang tritis, dan mampir dulu ke daerah yang mirip padang gurun safana (hasil lihat on the spot). Setalah sedikit berputar ria di kota ini kami mengambil jalan alternative dengan harapan bisa masuk gratis, ternyata tetap saja bayar kawan. Ini untuk pemasukan negeri kita, astagfirlah, masih ada juga ya pikiran seperti ini? Masuk daerah dekat pantai pemandangan mirip di afrika bisa dilihat, sedikit gersang dan ditanami tumbuhan-tumbuhan perdu. Akhirnya ketemu juga kawan daerah yang mirip dengan gurun sahara ini, pernah juga untuk video klipnya agnes monica di album cinta tak ada logika. Narsis dulu, ambil menerapkan ilmu fotografi sedikit-sedikit, lumayanlah, buat documenter dan bisa untuk gambar waktu bikin postingan ini.
        Bagian dari gurun ini memang tidak terlalu luas, cukup kecil jika dibandingkan dengan gurun sebenarnya. Udara juga sudah mirip, panas, tapi lebih sering terkena hujan, apalagi kalu di musim penghujan. Pohon-pohon palem juga ada disini, dihiasi tanaman mirip di timur tengah sana. Setelah selesai di gurun ini kami melanjutkan edisi cuci mata ke parang tritis, subhanallah, makin indah saja ini pantai. ^_^,,, hari itu masih cukup sepi, tetapi tetap saja ada pasangan muda-mudi yang berpansangan ditempat ini, astagfirlah. Bahkan saking biasanya tempat ini jadi ajang seperti ini, bapak tukang parker bertanya kepada kami “kok g’bawa gandengan sendiri mas?”, dg pede saya jawab “lha ini berdua bisa gandengan pak!”, bapaknya hanya tersenyum. Dikira kami homo kali.hehe
       Di paris sekarang juga ada sebuah wisata baru yaitu paralayang yang diterbangkan dari tebing sebelah timur pantai. Harganya kurang lebih 250-350 ribu setiap terbangnya, cukup memacu adrenalin dan indahnya pantai bisa dinikmati dari atas. Setelah selesai melampiaskan lelah dipantai, kami melanjutkan perjalanan ke kota, mampir ke ISI (institute seni Indonesia), stadion Mandala krida, yang kali ini menunjukkan kalau standart stadion di Indonesia memang belum terlalu memnuhi syarat. Tapi disana menjadi tempat latihan yang paling favorit untuk pembalab di daerah malang. Setelah selesai kami melanjutkan perjalanan ke UGM, dan kembali ke UIN untuk berpamitan kembali ke Magetan tercinta. Demikian cerita singkat hunting jateng kali ini, somoga bermanfaat kawan. Terimakasih, ^_^

7 Mar 2011

Semarang ibu kota Jawa tengah

        Di edisi hunting kali ini, saya akan melanjutkan hunting dari Solo itu Surakarta ke Semarang ibu kota Jawa Tengah. Perjalanan hunting tiga hari tiga malam yang kami lakukan di jateng berlanjut ke Semarang. Setelah bercapek ria menikmati eksotiknya solo, kamipun melanjutkan ke Semarang lewat boyolali, dan salatiga. Perjalanan kami lakukan malam karena memang target kami hari kedua adalah jalan-jalan di semarang lalu melanjutkan ke jogja. Perjalanan yang cukup melelahkan karena kami lalui dengan motor bebek, tapi tak apalah semua ada hikmahnya (bijak saya). Setelah kecapekan, kami memutuskan istirahat sebentar di daerah sebelum semarang, disebuah pom bensin. Ternyata Allah menghendaki kami untuk istirahat tidur dulu, karena setelah sholat isa’ hujan turun cukup deras. Walaupun bawa mantel tetapi kami g’mau nekat-nekat amat, tujuannya kan nikmati anugrah Allah,ya dinikmati juga indahnya tidur dalam keadaan kecapekan. ^_^
       Setelah terbangun dari tidur (kurang lebih ada 1jam), kamipun melanjutkan berkendara. Sayapun kebagian di depan (jadi joki), ternyata kondisi yang belum dalam kesadaran penuh dengan mata saya yang agak bermasalah jika malam hari bikin eror. Setelah melewati daerah tanjakan kami melewati turunan, dan seketika itu roda motor turun dari aspal. Bukan rodanya saja, tetapi semua, batu yang dipinggir jalan gede-gede, kecepatan masih >60Km. Kalau banting kanan kena tubrukan mobil dan truk besar dari belakang, banting kiri masuk parit yang sudah dibeton. Tetap jalan dah, “glodak,,,glodak,,,glodak.” Subhanallah, rasanya adrenalin dipacu banget, cukup singkat tapi bikin mata kaga’ngantuk lagi.hehe,,Alhamdulillah insiden ini bisa berakhir dengan berhenti dalam keadaan selamat dan jokipun diganti. Lalu kami melanjutkan perjalanan, sambil kecepatan sedikit dikurangi.
       Setelah masuk ke Semarang pun kami makan nasi goreng di sekitar terminal kecil pinggir jalan besar. Berbeda dengan nasi goreng didaerah jawa timur, ini mungkin ya khasnya jateng, debat kami. Nasi gorengnya diberi daging yang ditusuk mirip sate, lalu diberi sawi putih. Spesialnya nasi goreng ini tidak digoreng layaknya nasi goreng didaerah saya, tetapi dibakar pake arang, nasgor rasa sate tepatnya.hehehe,,, setalah kenyang kami mencari tempat tidur untuk mengistirahatkan badan, akhirnya pom bensin pun menjadi pilihan selanjutnya. Setelah pagi kami selesai dengan solat subuh, pelemasan badan dan mandi, kamipun bersiap-siap untuk menikmati Semarang. Beberapa rencana sudah kami susun, yaitu akan berkunjung ke lawang sewu, masjid agung, stadion jatidiri dan yang terakhir adalah mampir ke UNDIP.
        Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 45 menit, kamipun sampai ke daerah kotanya. Hari itu senin, jadi masih sempat kami melihat dinas perpajakan dan beberapa kantor pemerintahan melakukan apel pagi, terdengar juga sayup-sayup pidato yang disampaikan. Sedikit berputar-putar dulu di perlimaan dan melihat kampus UNDIP di kotanya. Setelah cukup capek, kami cari tempat makan, ketemu juga dengan nasi pecel. Subhanallah, pecelnya pedes banget, lebih banyak rambanan (bahasa kerennya sayuran) daripada nasinya, kangkung lagi (efek ngantuk pasti dapat). Tapi kami ingat, harus bersyukur kawan, kalau g’gini g’ada yang seru diperjalanan kita kali ini. Kamipun bertanya kepada ibu’penjual dimana letak lawang sewu dan masjid agung. Ternyata letak lawang sewu sangatlah dekat dan tak seseram yang dikatakan orang-orang. Untuk ibu’penjual pecel yang kami ampiri kemarin “terimakasih bu’atas pecel dan keramahannya, lain kali diberi diskon ya bu’. ^_^”
        Sesampai di lawang sewu, kami langsung narsis-narsis aja, tanpa pikir panjang. Ternyata kali ini lawang sewu sedang direnovasi kawan, jadi kalau masuk harus bayar guide agar tidak masuk kedaerah yang sedang direnovasi. Akhirnya kamipun tidak masuk, maklumlah ini modal cetek kawan, saya Cuma bawa 90ribu, sementara kawan hanya bawa 70ribu. Jadilah berfoto ria berlanjut sampai daerah yang bisa dijangkau saja, tak apalah minimal petanya juga sudah tahu. Setelah salesai dari lawang sewu kami melanjutkan perjalanan ke masjid agung Semarang, yang setahu saya ada atap buka tutupnya mirip di madinah. Akhirnya kami lanjutkan puter-puter dengan pakai logika juga untuk sampai ke tempat itu sambil tanya sini-sana. Setelah sampai di masjid agung, subhanallah kami berdua berdecak kagum, ini baru namanya masjid kawan. Sambil melampiaskan berfoto ria, kami beranjak masuk kemasjid yang memiliki empat tingkat ini.
       Sesampainya didalam, kami solat dhuha dulu, supaya setiap hunting ini juga ada suasana religiusnya. Tanpa kelupaan untuk mendapat rejeki dengan bersedekah, siapa bilang orang dengan modal pas-pasan kaga’bisa sedekah? Melanjutkan perjalanan dari masjid agung kami lanjutkan ke stadion jatidiri semarang, walaupun tidak sebagus yang saya pikirkan, lumayan lah untuk kelas semarang.hehe,,, disini saya naik tembok yang bisa saja dinaiki siapa saja untuk menonton pertandingan atau sekedar berfoto ria. Setelah selesai dengan stadion jatidiri kami melanjutkan ke UNDIP yang ada di sekitar daerah tanjakan keluar dari kota semarang. Disana kami putar-putar kampus yang merupakan salah satu kampus tertua di Indonesia. Bahkan rektoratnya juga masih tua sekali (dari jenis bangunan dan ukuran). Ada pula gedung pertamina disana kawan, lumayanlah karena di kampus kami belum ada. Lalu nanti saja kami lanjutkan di wisata kampus ya. ^_^
        Setelah selesai semuanya, kami putuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan yaitu ke Jogjakarta. Demikian postingan untuk hunting kali ini akan kami lanjutkan ke hunting berikutnya kawan, semoga bermanfaat dan terimakasih. ^_^

27 Feb 2011

Solo itu Surakarta

       Liburan semester untuk mahasiswa jadi bunus tambahan ketika UAS selesai (selain nilai bagus), begitu juga dengan saya. Ketika liburan semester III kemarin, sayapun juga menyempatkan diri melakukan edisi hunting ke jawa tengah. Indahnya perjalanan bukan karena seberapa jauh perjalanan itu sendiri melainkan seberapa banyak hikmah yg dapat kita petik dari itu semua. Saya berangkat minggu sore dari rumah (magetan tercinta), bersama asasun najakh (teman kuliah satu jurusan). Naik sepeda motor lewat daerah cemoro sewu dan karang anyar (jalan alternatif ke jawa tengah lewat magetan), tak lupa mengenalkan indahnya magetan kepada teman yg berasal dari lamongan itu. Magetan adalah kota sejuk nan dingin, jadi kalau lewat jalan ini bakal bikin kaos tangan terpakai dan kopi atau teh hangat jadi seduhan utama untuk menghangatkan diri. Sempat narsis dulu foto di daerah perbatasan dan pemandangan yang indah, “ce’e ono kenang-kenangan ben iso terkesan.” Kata asas luwes.
       Daerah jalanan ke sarangan, cemoro sewu ke cemoro kandang berliku-liku dan menanjak (yg pasti dingin) kalau masalah suhu saya kurang paham juga, g’bawa thermometer kawan. ^_^,,, sekedar informasi cemoro sewu dan cemoro kandang adalah pos pemberangkatan pendakian gunung lawu. Cemoro sewu itu berada di jatim, sementara cemoro kandang berada di daerah jateng, rute lewat jateng lebih jauh tapi lebih landai, sedangkan rute lewat jatim lebih dekat tapi menanjak. Lewat keduanya tidak sampai 12 jam, jalan nyantai, waktu istirahat g’lebih dari 15 menit jg. . Lanjutin perjalanan ke solo itu Surakarta, lewat daerah karanganyar, jalan masih berliku tapi menukik kebawah. Baru nyampe’setengah jalan ada pembayaran buat pintu masuk daerah wisata,”ini dia pemasukan pemkabnya.” Kata saya sambil ngitung-ngitung untung perbulannya. Eh, belum lama kami dikasih kesempatan Allah buat tambah pahala. Ada dua ibu2 jilababer (panggilan buat pengguna jilbab besar), beliau berdua jatuh dari sepeda motornya anak-anaknya nangis pula. “Ini dia ladang amal pikir saya.”, langsung kami berdua turun bantuin tu ibu plus benahin motore, Alhamdulillah masih bisa jalan. Setelah tanya keadaan dan tu motor sudah bisa jalan, sudahlah kami pamit cabut dulu (senang juga kawan bisa bantu orang lain) ^_^.
        Ternyata bikin pantat panas juga lama-lama diatas sepeda motor, tapi semangat kami masih 100%, karena solo, semarang dan jogja menanti. Sebelum sampai ke daerah solo, kami mampir dulu ke sebuah tempat tapa yg namanya candi Semar. Narsis-narsis berfoto ria dulu, setelah selesai foto ria ternyata ada bapak-bapak (usia kurang lebih diatas 50th). Beliau adalah penjagacandi ini, ternyata candi ini adalah milik orang Jakarta yg masih mempunyai darah keraton (darah biru kawan), kalau saya mah darah merah.^_^,,, tempat yang berada di pinggir jalan raya itu juga menjadi tempat semedi sang pemilik dan menjadi tempat favorit untuk mengembala kambing, karena waktu itu juga banyak kambing-kambing yg berkeliaran.hehe
        Yups, saya lanjutkan keperjalanan setelah puas tanya sini sana plus istirahatin ni pantat. Selanjutnya kamipun sampai ke solo kota, sampai solo kota pepatah “malu bertanya puter-puter di jalan” selalu kami ingat. Di saat lampu lalu lintas merahpun kami sempatkan untuk bertanya, akhirnya tujuan pertama (keraton solo) tercapai juga. Subhanallah, padatnya bikin naik motor kalah cepat dengan jalan kaki. Tapi semua terbayar ketika kaki sudah masuk daerah keraton, subhanallah indahnya budaya jawa kawan, “sae pun, mboten wonten tandinge. ” waktu masuk ke kraton kita harus menyipkan 10rb untuk satu orang. Tapi semua terbayar tuntas ketika kita masuk kedalamnya, semuanya dijaga seperti aslinya (walaupun ada beberapa renovasi) tapi tetap bergaya 100 th yg lalu. Semua benda-benda kraton di tata rapi dan dibiarkan dalam suasana nostalgia zaman dulu (sebenarnya lebih terlihat seram), dengan lampu neon warna kuning. Nah kalau anda ingin lebih jelas silahkan bertandang ke keraton pecahan mataram baru ini.
        Setelah putar-putar di bagian ruang-ruangnya, kami beranjak ke tempat abdi dalem atau daerah khusus kerajaan. “yg pakai sandal harap dilepas, yg pakai sepatu dipakai.” Kata abdi dalem yg ada disana, kebetulan saya pakai sandal jepit swallow warna putih dihiasi cap bulan sabit dan lambing persen (%) di bagian bawahnya. Terpaksa dah harus “nyeker” (istilah telanjang kaki untuk orang jawa), “kaya’ di masjid yg suci aja harus lepas alas, tp malah yg pake sepatu kaga’?” ini justru salah keunikan dari keraton solo, kesakralannya (yg penting kaga’ngrusak akidah ja) ^_^.
        Kamipun melanjutkan ke wisata UNS (Universitas Negeri Sebelas Maret), ini bagian dari tour education. Nah, kalau yg wisata kampus ini bakal dibahas di hunting kampus ya kawan. Soalnya pembahasannya banyak bener, sampai capek ni jari buat ngetik.hehe,,,,,,,, belanjut keperjalanan kami di solo, kami mampir ke salah satu ikon kota solo, stadion Manahan. Yups, stadion bola yg cukup ternama di negeri ini, stadion yg menjadi pembuka LPI (liga primer Indonesia) sampai final Copa Indonesia. Masuk stadion ini cukup bayar kontribusi buat parker ja kawan, walaupun di Magetan (daerah asal saya) g’ada yg seperti itu. Tapi masuk stadion ini seperti masuk tempat yg lama saya rindukan, Alhamdulillah semua ada hikmahnya kawan. Hobi juga orang-orang solo berolahraga ria, buktinya banyak orang lari-lari dan sekedar jalan-jalan, main bola ataupun berlatih pencak silat, di minggu sore itu. Yang cukup menyita perhatian adalah adanya latihan anak-anak yg naik motor dg akrobatik atau yg tenar dg nama free stile. Berdiri waktu ngendarai motor yg berdiri pula, mengangkat roda belakang sambil berputar dan lain sebagainya. Sayapun member tepuk tangan untuk mereka, lumayanlah daripada “bedigasan” (bahasa jawa dari bertindak semaunya sendiri) di luar sana.
        Yups, dan perjalanan di solo kami ditutup dg hujan waktu mampir sholat ashar. Serta ngaji bareng sama pak TNI AD, oya saya lupa yg paling seru kami dikawal polisi waktu jalan dari solo dekat karanganyar sampai kota. Karena ada motor-motor polisi sedang kembali kemarkas, dan kamipun memilih untuk selalu berada ditengah-tengah rombongan itu kawan. Ayo kawan kita nikmati keindahan negeri ini dengan cara kita, karena itu adalah salah satu semangat membangun negeri. Semoga bermanfaat kawan. ^_^

15 Jul 2010

Merintis karier ngamen di kota gudeg

      Orang indonesia mana yang g’kenal dengan kota gudeg, yups bener banget. Kota yang kalau dipanggil berkali-kali g’jawab, karena punya gangguan ditelinga. Keliru ya? Gudeg adalah makanan yang lebih enak dari opor ayam, lebih gurih dibanding bubur ayam (kata orang jogja sie). Padahal makanan yang berbahan baku tewel (nama kerennya nangka) memang luar biasa enak menurut saya, apalagi pas waktu kelaparan, gak ada makanan lain, duit abis, n hanya itu yang gratis. Pasti makanan di restoran terkenalpun kalah telak, bahkan ketinggalan jauh (asal g’ke over lap aja).
      Kelamaan mukodimah ya? Makin lama mukodimah kan makin loyo, jadi makin mudah paham cerita ini tanpa ada pertanyaan panjang lebar. Saya mulai saja dengan membaca basmalah, maaf buat yang lain agama baca yang menurut anda aja, jangan ikut-ikut, saya jadi g’enak sama pemuka agama anda (ntar dikira nyaingi).Seperti biasa, kalau sudah ada waktu akhir-akhir proker (program kerja bukan protes dan kerusuhan) pasti ada namanya pertanggung jawaban. Saya yang menjadi ketua pramuka pada waktu SMA (bukan maksud hati sombong, tapi emang g’ada yang bisa disombongin lagi), mempunyai ide untuk mempertanggung jawabkan USHP (uang sisa hasil perkemahan) untuk kepentingan pramuka.
       Akhirnya setelah berduel 11 lawan 11, bertemu skor telak 20-2 untuk mempertanggung jawabkan USHP dengan memanfaatkannya sebagai dana tour jogja. Sesuatu yang sangat bijak menurut kami, karena dengan begitu akan banyak yg meneruskan jadi senior (karena pramuka juga kaya), memberi kesempatan otak kami memikirkan masa depan bangsa (dengan melihat pasangan-pasangan di parang tritis, walau kadang kepingin). Dan hari keberangkatan ke kota pendidikanpun sudah datang, tanpa basa-basi dan sedikit wira-wiri kami (team of camp scool) langsung bergegas melangkahkan kaki ke bus TNI AU untuk menuju medan nyali, yang bahagia, dan teringat sepanjang jalan kenangan.
      Dalam perjalananpun kami membuat perjanjian (bukan konfrensi meja bundar atau janji sucinya yovie n the nuno), tapi janji sebaju secelana. “barang siapa yang tidak berani ngamen di jogja nanti, siap-siap pulang tanpa baju dan celana. Akan tetapi siperkenankan menggunakan kolor.” Kurang lebih seperti itu kalau didramatisir dengan teks bahasa indonesia, karena janji kami janjine tole jadi 100% jawa banget. Janji ini dibuat oleh tiga orang, para gladiator lapangan pramuka, yang paling pintar ngomel +mencari kesalahan, tapi baik-baik n cakep-cakep, cerdas lagi (karena saya termasuk salah satunya). Sehingga memaksa saya untuk bereksperimen lagu sebisanya, dengan akor semampunya juga, yang penting g’bikin orang lain tutup telingan.
      Jogjapun menyambut kami, ahlan wasahlan kata orang keraton, welcome kata orang pesisir, dan para mahasiswa mengatakan sugeng rawuh. “jogja, jogja, jogja!” teriak kami secara serempak, tanpa malu mengcopy iklan di tv, dan di paste pada saat itu. Beruntung tujuan pertama adalah pantai parang tritis, waktu masih siang bolong jadi belum waktunya pangeran panggung turun. So, nikmati aja suasana laut sambil nyelem barangkali ada cewek yang nyangkut di dasar pantai, bisa dijadiin teman renang. Daripada lihat pasangan-pasangan yang lagi rapat tertutup ditempat terbuka(g’peduli dengan suasana sekitar, apalagi pengamen), beruntung belum jadi ngamen disini. Sudah capek-capek nyanyi, malah dapat tontonan live, dapet dosa karena nonton gituan, bikin kepicut juga (walau persentase kecil, tapi juga pengen), pokoknya enakan minum air laut lah, asin tapi bikin ketagihan.
      Setelah waktu 2 X 120 menit berakhir, kami melanjutkan ke tempat yang cukup manjanjikan untuk ngamen tentunya (alun-alun jogja dan pasar marioboro). Jantung mulai berdetak, berdetak labih kencang seperti genderang mau perang (maaf mas dani, sedikit terbawa suasana). G’kebayang kalau pulang Cuma pake kolor, syukur kalo kolor bagus atau jebol, tapi saya tetap mencoba meyakinkan diri agar perut yang buncit ini tidak terekspos oleh teman-teman yang super jahil. Tapi g’mungkin saya menyerah sebelum bertempur, maju tak gentar membela perut yang sedikit melar.
       Kamipun turun dari elang biru (bus TNI AU), gimana g’bangga wisata dengan bus TNI, AU pula. Biyarpun seperti bus ekonomi tapi full AC (angin cendela), dan baunya hummm, khas banget keringat TNI, jadi pengen punya profesi TNI. Tapi mau bagaimana lagi, saya sudah terjun ke dunia keartisan sejak perjanjian tadi diresmikan. Sayapun melangkahkan kaki ke marioboro, dengan mantap tanpa ragu, dengan memutar otak sampai jungkir balik (untuk badan ini g’ikut jungkir balik). Sampai juga akhirnya di pasar seribu dagangan, bukan karena banyaknya dagangan, tapi lebih kepada harganya yang masih menyentuh harga ribuan rupiah.
       Masuk pasar bukannya cari duit (dengan ngamen), melainkan beli pakaian, habisnya lumayan juga Rp53.000,-(untuk ukuran kantong saya). Setelah saya geledah semua saku dan sudut-sudut terpencil pada dompet, yang tersisa Cuma Rp50.000,-. Negosiasi alot dengan dengan ibu penjualpun terjadi, begitu kokoh ibu penjual tidak mau memberi kortingan lagi. Dalam waktu singkat otak saya harus tiarap, jongkok, berdiri untuk menemukan ide agar devisit Rp3.000,- ini menjadi sesuatu yang dapat siselesaikan tanpa ada transaksi utang piutang. Teman sayapun lewat dengan menenteng gitar, uhui, otak sayapun loncat kegirangan, langsung saya sabet itu gitar. Dengan wajah melankolis, dan bersikap dramatis,dikemas bahasa teoritis saya merayu ibu penjual untuk ngamen perlagu Rp1.000,- “deal.”
      Tiga buah lagu merdu yang sederhana, dan yang akornya saya bisa tentunya membuat tragedi ngutang mengutang tak terjadi. Saya seperti memperoleh gol penyeimbang kedudukan dan berniat membalikkan keadaan, “inilah saatnya moment kebangkitan, merdeka”. Selangkah demi selangkah kami susuri jalan menuju alun-alun, dan sayapun mendapat personel baru (teman pejanjian tadi). Berdua kami menghampiri dua wanita yang sedang duduk ngobrol,dari dandanannya mereka mahasiswi, cukup eksentrik, tapi sedikit jauh dari kata menarik (menurut saya). “mau numpak ngamen mbak. Kata orang mirip buaya, tapi bagiku luna maya,,,,”, belum sepat ganti akor dua kali, “stop, stop. G’seru kalau lagunya dari situ, request zagy dogĂ­” ucap salah satu dari mbak-mbak itu. Wah, jenis anjing yang seperti apa pula itu (pikir saya, sembari tengok kanan kiri seperti orang blo’on, padahal cerdas sekali). “Kalau g’bisa balonku ada lima aja.” Cetus si cewek sumpret itu (maaf ya mbak, kalau anda baca tulisan saya ini, tapi anda emang bener-bener sumpret). “Balonku ada lima, rupa-rupa warnanya,,,,,,” kmi menyanyi dengan sedikit lantang supaya jadi obat pelipur malu dan lara hati, sekaligis menutupi kesalahan akor.
      Rp1.000,- itu yang kami dapat, banyak mintanya ngasihnya g’seberapa pula, sumpret (oh ya, tadi sudah minta maaf, saya g’akan ngulangi lagi mbak sumpret). Setelah selesai dengan mbak itu kamipun melanjutkan ke alun-alun kota, kami melihat sepasang bule yang lagi istirahat. “excuse me mr, numpang ngamen. Pernah ada, rasa cinta antara kita kini tinggal kenangan…..” lagu hampir setengah, eh, mereka malah pergi. “i’m sorry, I’sorry.”, saya maafin kok mr, moga makin kere aja ya. Semoga jadi dermawan seperti pasangan-pasangan orang pribumi, setelah pil extra pahit dari bule tadi, kamipun g’perlu lama-lama main. Karena kami bertambah personil lagi (bisa buat band ni lama-lama), tiga orang jadi team ngamen (komplit sudah).
     Konsumen-konsumen selanjutnya adalah pasangan-pasangan pribumi, walupun hanya gopek, tapi belum sempat pindah akor mereka langsung merogoh saku, megambil kembalian parkir, atau kembalian beli kue.
Lain lain dengan satu pendengar yang kebetulan juga bule laki-laki, kami nyanyikan lagu geby yang judulnya tinggal kenangan. Sampai lagu habis dia memdengarkan sambil tesenyum lebar, kamipun semakin semangat menyanyikan lagu itu. Walaupun suara pas-pasan, iringan musik msih g’ karuan, tapi apresiasinya cuy. Setelah memberi applause beliau berucap “saya sangat suka orang yang mempunyai jiwa seni” sambil mengeluarkan ribuan empat lembar, “terimakasih banyak mr.” dan akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke bus.       Ternyata sejak tadi kami sudah di awasi oleh pengamen daerah setempat (bukan karena kami cakep n cerdas, tapi mungkin tangan mereka sudah gatal mau nonjok muka orang). Sekali lagi bus TNI UA bikin kami bangga dan selamat, mereka g’berani menjamah ke bus, dan kamipun bisa menikmati Rp.11.000,- hasil merintis karier ngamen di kota gudeng.
       Dan kami putuskan untuk membeli kopi jogja, warnanya lebih mirip air kobokan (g’hitam, bahkan lebih berwarna the). But, setelah satu tegukan, subhanallah, kaya lihat film bokep aja ni mata g’mau nutup-nutup. Pancen kopi jogja the best, g’bisa dasangganh dengan amandemen sekalipun.itulah pengalaman gila saya, walau tak semematikan PDI n PDII, tak sedramatikal Titanic, Tak semelegenda kisah nabi dan rosul. Tapi cukup memmberi kenangan dihati, senyum kecil di lesung pipi, tawa yang memperlihatkan gusi, n hikmah untuk pewarna hati. Trims^_^
sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com