28 Oct 2011

Ini Sumpah bukan Sampah.

Sampah
Dibilang tiada guna, lebih parah dari benalu
Sebenarnya sangat berguna, jika tepat guna & juga tepat kelola
Tapi, Sampah tetap Sampah
Dibuang, dan masuk tempat sampah
Tapi, biasanya berakhir tragis terhanyut di sungai
Lalu jadi pulau di tengah samudera
    Sumpah
    Sumpah, ku tak ingin jadi sampah
    Kalau sudah bersumpah tak ada kata ralat
   Tak bakal tekan F2
   Karena sumpah itu menjadi darah, darah kita yg merah
   Membuat tulang yg putih lebih berguna
   Bukan sumpahku, tapi terlanjur didadaku

Karena apa?
Karena ini sumpah bukan sampah
Beginilah SUMPAH BUKAN SAMPAH
Dan selalu ingatlah, "INI SUMPAH bukan SAMPAH"



spesial untuk sumpah pemuda 28 oktober, salam dari Sang Penggembala Tyas Haryadi... ^_^

25 Oct 2011

29 Hari di ayomi Gunung Kelud, at Blitar.

12 Laskar Ulul albab.
       Wahai kawan yang budiman, kali ini mari saya ajak sedikit melihat sebuah kisah dalam kemasan PM (pengabdian masyarakat) di sebuat kota kecil dibawah Gunug Kelud. Sebanyak 12 orang (Laskar Ulul Albab) berada di jl. Ciliwung no. *lupa Kelurahan Tanggung, Kec. Kepanjen Kidul Kota Blitar. Inilah kisah hunting yang juga sangat saya nikmati “29 Hari di Ayomi Gunung Kelud, at Blitar.” Sebuah kisah yang harus dikisahkan menjadi referensi kehidupan dan penghias imajinasi dengan semangat membara. 29 hari yang sangat pendek juga panjang, pendek karena dalam waktu itu kami (ber12) masih belum bisa melakukan hal yang lebih. Terlalu panjang karena waktu sebanyak itu banyak tersia-siakan.
        Banyak hal yang dipelajari dan dihikmahi dari waktu sebulan kurang sehari itu, dimana setiap waktu adalah bagian pembentukan jati diri. Sewaktu itu, tiap pagi tiada paksaan, tiada absensi, dan tiada agenda yang diwajibkan. Dimana kami mengembangkan sendiri apa-apa yang bisa dilakukan, mengerjakan dengan rasa senang hati di balut sebuah hubungan keluarga. Yups, berdua belas kami memiliki sebuah ikatan tanpa SK dan KK. Tetapi teman-teman secara kompak dengan berlalunya hari, memanggil saya (Tyas Haryadi) sebagai papi, dan ilma sebagai mami. Tapi ini bukan karena hubungan kedekatan kami (saya dan ilma) sebagai adam dan hawa. Sementara yang lain mendapat panggilan paman, anak, bibi dan lain sebagainya. Inilah hunting era menetap dalam jangka waktu lama yg terkenang di long term memory.
        Kami tinggal di depan masjid Baitur Rofi’, sebuah masjid besar yang memiliki kapasitas lebih dari 800n jama’ah. Para kaum adam berdelapan, tinggal diruangan remas yang kami sulap jadi kamar, merangkap ruang musik, ruang rapat, sekalian tempat tidur yang paling nyaman saat itu. Selanjutnya kaum hawa tinggal di pos III penampungan pengungsi gunung kelud, yang merangkap menjadi ruang masak (walau hanya masak air, nasi dan menghangatkan sayur) serta ruang makan + ruang rapat. Di hari-hari awal kami memang sangat bertujuan untuk menghangatkan hubungan, bersama dalam senyum dan tawa, mengambil hikmah di dalam hikmah, sehingga kami bisa merasa dalam keluarga dan sedang mengadakan hal yang kami sukai.
        Ini adalah sebuah pengalaman hunting dalam hal kehidupan masyarakat kawan, selama waktu itu kami sangat banyak melakukan interaksi dengan masyarakat. Berbeda dengan beberapa hal yang kami alami ketika berada di Kampus, Rumah, dan juga di segala tempat yang kami lewati dahulu. Inilah indahnya sebuah pengabdian, karena hidup adalah pengabdian, dan pengabdian itulah yang membuat hidup lebih hidup. Kami berdua belas haruslah mengisi setiap paginya (setelah subuh), yaitu mengisi kuliah subuh serta mengisi MC. Inilah kehidupan, kadang ada hal-hal diluar dugaan kita yang harus kita lakukan, jadi kita harus bersiap dengan apapun yang akan menjadi amanah kita kawan.
        Hunting kami memang lebih indah, karena disetiap hari kami makin akrab dengan adik-adik kecil disekitar masjid. Tepatnya dua Sekolah Dasar, karena kami melakukan pelatihan dan membantu pondok Romadhon di kedua Sekolah pemberi batu awal bagi pemikiran pemuda bangsa ini. Lalu kami juga mengabdi memberikan tenaga kami kepada sebuah Pondok Romadhon lagi untuk anak-anak SMK 2 kota Blitar. Mereka sangat dekat dengan kami, bagaimana kami mampu mengajak mereka memiliki semangat dan kemauan melebihi kami-kami. Tak lupa interaksi dengan para alim ulama, yang menjadi special, karena kami yang juga dijadikan tokoh agama dadakan menjadi bahan evaluasi langganan bagi beliau-beliau sewaktu kuliah subuh. Dan menjadi guru spiritual sekaligus membahas beberapa program yang memang ingin dijalankan, mereka guru dan orang tua kami disana.
        Hubungan lain adalah dengan para pemudanya, ya, para pemuda, bukan hanya REMAS. Karena kami juga sering melakukan hubungan dalam melakukan pengembangan semua potensi yang ada disana. Mulai dari pemaksimalan music, yaitu solawatan + orkes yang mereka rintis sendiri. Selain itu adapula blog yang kami maksimalkan, untuk menjadi karya yang akan memberikan kesempatan berkreasi bagi mareka. Tanaman toga juga sedikit memaksa mereka bekerja dengan atau tanpa kesenangan, karena kami belum menanamkan kesenangan kepada mereka. Inilah kawan, perjalanan dan penerangan singkat 29 hari di Ayomi Gunung Kelud, at Blitar. Ada pula beberapa baris puisi yang ingin saya sampaikan untuk pengalaman ini :
Di saat aku bersua aku tersenyum
Lalu aku bertanya, seberapa mampu aku berguna disini?
Setelah 29hari berlalu
Aku ingin kembali, kembali dengan kontribusi lebih
Layaknya supersub yang selalu ingin member terbaik
Walau waktu singkat, tetapi harus maksimal
Dan akupun diberi kesempatan kembali sang Illahi
Semoga benar-benar jadi manusia yang berguna

Demikian kawan semoga bermanfaat, salam dari Sang Penggembala, Tyas Haryadi…. ^_^

20 Oct 2011

Jujur itu mujur, luhur, dan drajatnya tak luntur

Pinokio icon dari sikap jujur.
       Alhamdulillah, nyawa masih dikandung badan, dan tangan ini masih bisa menuliskan satu dua buah kata sederhana yang semoga memiliki banyak arti. Negeri ini memang sedang kekurangan genetika pemimpin handal, menteri-menteri handal, bahkan sampai para pelajarnyapun juga kurang. Sebenarnya apakah yg salah dengan negeri ini? Bukan masalah apa dan siapa, tp bagaimana semua elemen menghargai sebuah kejujuran. Ya, hanya satu katasederhana “jujur”. Kejujuran adalah sebuah nilai mulia layaknya berlian, walau kejujuran itu sendiri tak mau dibayar dengan berlian pula. Dewasa ini, kata jujur juga dijadikan sebuah slogan yang cukup merusak moral “jujur iku ajur” (jujur itu hancur).
        Saya juga berpikir, meresapi, baca-baca buku tentang sunah-sunah Rasul, riwayat-riwayat Nabi, saya semakin yakin bahwa jujur itu memang akan hancur. Tapi yang hancur adalah kesempatan untuk bertindak maksiat atau tercela, dan hancur pula kesempatan masuk neraka, insyaAllah. Kenapa? Ada sebuah hadist yang menjelaskan bahwa “bertindak jujurlah kamu, karena jujur itu dekat dengan kebaikan, dan kebaikan itu dekat dengan surga”. “dan janganlah kamu berbuat dusta, karena dusta itu mendekatkan kepada keburukan, dan keburukan itu mendekatkannya kepada neraka.” Sebuah hadits yang perlu kita pahami, resapi dan terapkan tentunya, betapa pentingnya sebuah kejujuran kawan. Kalau hidup ini tak dihiasi kejujuran untuk apa arti semua yg kita meliki? Harta yg berharga adalah sebuah kejujuran.
        Saya pernah juga memberi kuliah subuh pertama di mimbar, ya, kali itu adalah waktu pengabdian masyarakat di sebuah masjid besar, dengan jamaah yang rata-rata adalah mereka paham akan agama (bukan hanya abal-abal). Yang saya bahas kali itu adalah tentang kejujuran, atau bahasa kerennya “blak-blakan”. Bagaimana seorang yang jujur itu adalah seseorang yang mujur, karena kejujuran adalah suatu kemujuran yang sedang kita rangkai melalui janji Allah. Orang jujur ini adalah orang yang luhur, karena orang luhur akan mengatakan apa adanya dan ada apanya, tanpa rekayasa, tanpa skenario dan arahan produser. Seperti pemimpin-pemimpin yg jujur, semisal Rasul, Khilafaur Rosyidhin, para tabi’in, dan alim ulama’, serta pemimpin negeri yg jujur, tentu mereka mendapat posisi yang luhur didepan semua orang bukan? Yang terakhir adalah drajatnya tiada luntur, kenapa? Karena orang jujur itu adalah orang yg membangun derajat, derajat dibangun dengan harta maka dia akan tinggi derajat kekayaannya, orang yang membangun derajatnya dengan ilmu maka dia akan tinggi drajat keilmuannya, sementara orang yang kaya kejujuran, maka dia adalah orang yg drajat kejujurannya tinggi. Tingkatan kejujuran lebih penting daripada sebuah ilmu dan kekayaan, bagaimana jadinya jika ilmu dan kekayaan itu tanpa sebuah kejujuran?
        Katanya “jujurlah walau itu menyakitkan!”, padahal tiada kata menyakitkan dalam kejujuran. Karena dalam kejujuran yang ada adalah keindahan, dalam kejujuran pula ada rejeki, dan dalam kejujuran juga terdapat solusi. Kejujuran sekarang ini memang cukup asing dihadapan masyarakat, orang jujur sangatlah langka. Padahal dengan kejujuran itu masalah akan lebih selesai, kenapa? Coba kita pikirkan jika para koruptor itu jujur, tentu tak perlu mendatangkan seribu saksi, tak perlu habis dana untuk menjemputnya diluar negeri, tak perlu pula untuk memasang penyadap yg dilakukan oleh KPK. Bukankah sebuah kejujuran itu sangatlah penting, sampai dikisahkan pada masa Rasulullah ketika menyuruh seorang sahabat yang hobi zina. Dan dilanjutkan untuk belajar kejujuran, dengan perlahan sang sahabat membenahi diri dan akhirnya sudah terbebas dari zina karena kejujuran yang diperintahkan oleh Rasul.
        Inilah prinsip kejujuran untuk kita semua, semoga bangsa ini akan menjadi bangsa yang jujur. Jujur dengan keterpurukan yang tengah menerpa kita semua, lalu dengan semangat kejujuran ini bersama-sama membenahi diri agar lebih baik dan lebih baik lagi. Amin, alfatehah… salam dari Sang Penggembala, Tyas Haryadi ^_^

4 Oct 2011

Fisikku, Fisikmu, dan Fisik Kalian.

Chairil anwar bilang “aku binatang jalang”.
Ku bilang “fisikku memang jalang”.
Tak mau diajak kompromi, tak mau diajak serong kekanan dan kekiri.
Hanya diam terpaku, tak mau berkomentar seperti batu.
      Jika berlari ku mau sampai ujung negerimu.
      Belum ada sejengkal kau sudah mengeluh.
      Belum ada selangkah kau sudah mengaduh.
      Belum sempat bergerak kau mulai menggerutuh.
Berusaha ku mendaki, tapi mampunya hanya menyanyi.
Ketika bernyanyi yang keluar suara basi.
Ketika mata ku buka sakit kepala tiada tara.
Padahal ini tak seberapa dg siksa Sang Kuasa.
      Fisik memang tak bisa disalahkan.
      Hanya patut disukuri dengan segala optimalisasi diri.
      Fisik memang harus mati.
      Karena yang hidup pastilah bakal sampai ke kata mati.
Fisik adalah anugrah Illahi.
Yang terkadang harus digembleng dan dianiaya.
Tapi menganiayanya demi ibadah dan juga sedekah.
Karena fisik juga butuh dijaga, karena dia amanah Sang Pemberi Nyawa.
Itulah fisikku, fisikmu, dan fisik kalian.



sedikit puisi dr tyas haryadi sang penggembala. ^_^

28 Sept 2011

Aku dan Tyas.

       Wahai kawanku yang budiman, ada sedikit hal yang mengusik hatiku beberapa hari ini, sempat membuatku turun. Tapi ku nikmati sajalah, karena ku tahu turunnya semangat, keefektifitasan waktu, kepercayaan diri, sampai ibadah ini juga nikmat dari Allah, dan ku yakin akan ada tanjakan tinggi yang akan ku lewati. Karena seketika ku berjalan kekamar mandi *hendak mandi, mulailah motivasi itu muncul dan berlanjut ketika ku duduk merenung dilantai dua PESMA DARUL HIJRAH.
“Tyas, masihkah kau ingat kapan kau lahir? Dimana kau lahir, dan bagaimana keadaanmu waktu itu?”
“Bukankah kau ini manusia hina bina yang belumur dosa, asalmu hanya dari setetes air yang hina pula.”
“Dari air hina itu kau berlindung di dinding rahim ibumu, lalu kau lahir kedunia inipun dalam keadaan bugil tanpa suatu apapun!”
“Kau yang waktu itu belum tahu apa-apa, tapi sekarang lihatlah! Apakah kau sudah banyak tahu? Sehingga semangatmu kendor, apakah kau sudah tak ingat perjuangan orangtuamu sehingga kau mau jadi sia-sia saja?”
‘aku menikmatinya, waktu turun untuk naikku, dan naikku yg banyak dihiasi turunku yang sedikit.’
“Ini bukan tyas, masih ingatkah kau ketika kau ditanduk kerbau, tertimpa sepeda, dan matamu dihantam raket? Siapa yang meninggikanmu kembali? Siapa yang membelamu pertama?”
‘ya, mereka adalah orangtuaku terutama ibuku!’
“Bukan, yang membela dan menolongmu adalah Allah. Melalui perantara orangtua dan terutama ibumu!”
“Lalu inikah balasanmu untuk Allah dan juga perantaranya? Tak ada kesempatan untukmu berleha-leha tanpa berbuat baik. Tiada waktu untukmu tanpa berpikir, berdzikir dan beramal soleh”
“Masihkah kau ingat imajinasi-imajinasi tingkat tinggimu, ketika kau berpikir akan memiliki robot besar dan kau yang menahkodainya! Ketika kau berimajinasi tentang suaka marga satwa yang penuh dengan flora fauna langka yang menjadi sahabatmu! Ketika kau bermimpi membuat stadion dengan segala kemegahannya! Masihkah kau ingat?”
‘sangat!’
“apakah imajinasi itu hanya akan berjalan tanpa ada efek kepada kehidupanmu sekarang? Apakah kau salah jalur? Atau apa?”
“Lihatlah mimpi-mimpi yang kau tulis sendiri dengan tanganmu itu, bukankah itu tak hanya sekedar tulisan di M.Word bajakanmu yang tiada arti? Bukankah itu bintang yang kan kau gapai, seperti bulan yang kau datangi?”
‘itulah aku!’
“tentu kau masih berpikir tentang lufi dalam onepiece yang bermimpi ke Greenland, lalu dia ditertawakan semua orang! Kau pernah mengalaminya ketika ditertawakan orang untuk keliling Indonesia, dunia dan ke bulan. Apakah kau akan menyerah?”
‘tak akan pernah, karena ini mimpiku dan mimpiku adalah bagian dari hidupku!’
“lanjutkanlah perjuanganmu tyas, lufi menghadapi perompak-perompak besar bersama teman-teman hebat, dan kau haruslah tak hanya jadi cerita kartun kelak!”
“Diwaktu sekolah dasarmu, engkau icon kecerdasan yang masih kau dengar dari guru-gurumu ketika bertemu sekarang. Engkau rajin belajar, pelajaran kelas 2 kau pelajari ketika kelas 1 seharusnya kau bisa mampu lebih sekarang!”
“Juara kelas selalu kau rengkuh, kau juga membuktikan dengan permainan sepakbolamu dilapangan, karya lukismu di kertas gambar, masih lupakah engkau dengan lomba-lomba yang kau ikuti? Walaupun begitu jarang kau memenangi!”
“lihatlah naruto tyas, tahap ujian chunin saja dia berkali-kali tak lulus. Tapi dia sangat bersemangat, karena mimpinya menjadi hokage, dan cita-cintanya akan konoha! Bukankah kau bermimpi jadi RI1? Bukankah kau sangat cinta akan negerimu, bangsamu dan agamamu?”
‘ya, walau aku sempat ragu, tp akan selalu kembali ku pacu dan mengatakannya pada dunia!’
“Bukankah kau ingin mengembalikan Indonesia jadi macan Asia? Kau ingin para petingginya juga memiliki akhlak yang mulia karena kemampuan Agama juga diatas rata-rata?”
‘sangat benar!’
“Seharusnya kau tak akan pernah terlena, hanya duduk tanpa berpikir, main game tanpa mengambil hikmah, & sendiri tanpa member kontribusi.”
“lihatlah perjuangan Bung Karno, Lihatlah kegigihan P.Harto, contohlah semangat mengabdi P.Habibie, Keluesan dari Gus Dur, emansipasi dr Bu Mega, sampai perjalanan orang pacitan macam P.SBY! harusnya kau tak seperti mereka, karena kau mampu lebih daripada mereka!”
“Yang jadi RI1 bukanlah orang lemah, bukanlah budak pekerjaan, yg jadi RI1 hanya orang kuat seperti karang, budaknya ibadah, yang menikmati semua hal dengan indah!”
‘ya, itu yang slalu ku usahakan. Walau kadang diri ini selalu ada salah dan dosa!’
“hei, kau ini manusia, tentu punya salah dan dosa tapi itu kesempatanmu untuk lebih baik dan dekat kepada yang kuasa. Apa kau ingin seperti malaikat?”
‘aku sangat bersyukur sebagai manusia, karena kalaupun aku tak hidup tentu itu kehendak sang Kuasa!’
“Masih ingatkah kau dengan masa SMPmu, yang kau hiasi dengan berbagai piala. Walau tak ada satupun yang singgah dirumahmu!”
‘4, tak penting, tp ku ingin memberikannya kepada orangtuaku sebenarnya. Karena ku dari dulu belum memberi apa2 kepada beliau!’
“yakinkah kau yang dim au orang tuamu adalah piala itu? Atau penghasilan besar? Atau keberhasilan beasiswa, yang sampai sekarang kau tak mendapatkannya?”
“Bukan, orangtuamu lebih butuh doamu, lebih butuh kasih sayangmu, lebih butuh waktu-waktu bersamamu, lebih butuh melihat semangatmu, lebih butuh melihat kebahagiaanmu, dan lebih butuh melihat kau tersenyum dan bangga serta patuh menyebut keduanya sebagai sumber inspirasi dan mencium tangan keduanya!”
‘tidak, aku akan berhasil, dan itu semua untuk Allah dan ku perantarakan kepada kedua orang tuaku’
“ingatkah kau siapa nama beliau berdua?”
‘tentu, Yatmi Sri Utami dan Supiran Pujo Hartono!’
“Lalau masihkah kau ingat apa saja yang telah diberikannya padamu? Tahukah kau ketika malam keduanya tak berselimut demi melihat kehangatanmu? Baju mereka masih robek tetapi membelikanmu baju baru? Mana balasanmu? Segeralah sukses dan selalu ingat mereka, itu yang di inginkan orang tuamu!”
‘tapi sekarang aku akan member semuaku untuk mereka, demi mengharap ridho Allah!’
“seharusnya seperti itu, lalu masihkah kau ragu dengan mimpi-mimpimu?”
‘pernah, dan kadang sempat naik-turun!’
“nikmatilah, turunmu untuk naikmu. Masihkah kau ingat mimpi naruto utk jadi hokage? Mimpi lufi (dlm one piece) untuk menjadi penjelajah laut dan pergi ke Greenland?”
‘sangat, karena imajinasiku saat kecil adalah dari kartun itu. Walau sekarang bukan tokohku lagi, tapi inspirasinya tak terlupakan!’
“maka lanjutkan mimpimu tyas, naruto menerima banyak ejekan dan cobaan ketika mimpinya jadi hokege masih terhalang. Kau bunkannya juga ingin jadi hokage di desa berlambang GARUDA dan berdasarkan PANCASILA? Maka gapailah…”
“bukannya kau juga punya mimpi untuk keliling dunia dan pergi kebulan? Mimpimu lebih tinggi dari lufi bukan? Gapailah, jangan pernah ragu dengan mimpimu itu. Biarkanlah orang berkata apa, dirimu adalah dirimu, biarkan dirimu yg mengerti, lakukan dg caramu, karena ini adalah hidupmu.”
‘selalu, dan aku pasti sukses sampai akhir, termasuk kematianku!’
“ingatlah, kesuksesan seorang adalah bagaiman dia bisa membuat orang-orang disekitarnya juga sukses. Dan itu juga yang harus kau lakukan, lalu sukseslah secara hakiki dg mati dalam keadaan khusnul khotimah.”
Semoga bermanfaat kawan, ini adalah kesempatan merenung dalam hati dan anda bisa merubah namanya dengan nama anda. Salam dari Tyas Haryadi sang Pengembala… ^_^

22 Sept 2011

Asolele atau apalah itu.

ini ketipung, ciri khas koplo.
       Kali ini saya membawa cerita dan hikmah dibalik hikmah lagi kawan, dari Pengabdian Masyarakat. Di Masjid Baitur Rofi’, Kelurahan Tanggung, Kecamatan Kepanjen Kidul, Kota Blitar. Di Pengabdian Masyarakat berbasis Masjid ini, kami (12 laskar Ulul Albab) di tugaskan untuk mendirikan suatu wadah pemaksimalan kemampuan masyarakat sekitar yang diberi nama Pos Daya. Nah, ini dia kawan diserangkaian Pos Daya ini kami memaksimal tenaga muda (semacam the young team) yaitu para REMAS (remaja Masjid) untuk menjadi ujung tombak kepengurusannya. Ada beberapa program yang sudah kami rancang, mulai dari pemaksimalan madding dan blogging, penanaman toga, dan ada lagi yaitu music religi. Dimana akan mengangkat Nasyid sebagai andalan masjid ini.
        Keindahan mulai bermula kawan, ketika kami tahu ada memang solawatan tetapi lebih mirip kepada orkes. *solawatan koplo…. “ihiiilllll, mantap ni!”, kata-kata ini yang spontan keluar karena sebuah budaya islami yang dioplos dengan lagu dangdut bahkan koplo. Waktu itu lagi kondangnya lagu yang memakai kata kunci “asolole”, pokoknya kayak “goyang titik jos!” beberapa waktu sebelumnya. Acara Pengabdian masyarakat ini masuk di bulan puasa kawan, lebih cocok waktunya untuk tadarus atau pengajian, tapi kalau seperti it uterus namanya Cuma berbaik hati pd yang baik. Lha para pemuda yg juga punya kesempatan baik bagaimana?
        Itulah yang kami pikirkan ketika menyanggupi untuk ber”asolole” ria dengan semua pemuda disana *tempat latihan. Saya sebenarnya tak memiliki kemampuan yang mungkuni dalam hal dunia musik, suara tak standart penyanyi, gitarispun baru bisa baru-baru ini. Tetapi kami punya pontensi dari dua bani adam, yaitu rifki baidhowi dan M.Ali Ikhsanudin. Keduanya saling melengkapi, dimana yg satu adalah ahli musik, bisa memegang berbagai alat music *ni bukan hanya megang tp mainkan. Yang satunya lagi adalah vokalis kondang, dan sudah diakui oleh keluarganya. Jadilah kami cabut pada malam itu.
        Yups, cukup malam sebenarnya, jam 10n lebih, karena kami masih mengadakan kunjungan ke dua tempat PM lain demi mendapat referensi dan refreshing. Musik adalah sebuah karya, yang berhubungan erat dengan skill serta imajinasi kawan. Di musik pula beberapa orang menemukan solusi, hiburan, bahkan sampai penghasilan bukan? Jadi jangan menganggap kecil hal-hal kecil, karena dari kecil itulah kelak menjadi besar <== pelajaran. Kami datang bak pemain free agent *ngomong bola, tak begitu dianggap tapi ditunggu kontribusinya. Kami mendengar dahulu beberapa lagu, saya hanya AI *angka ikut, kalo urusan pilih memilih lagu atau bagaimannya. Yang past tujuan utama tetap terpenuhi, mengajak pada kebaikan dan kesabaran kawan…. ^_^
      Disana, masih saya lihat tato dilengan, dileher dan juga punggung dekat leher milik para pemudanya. Dalam hati saya “keren ni, kalau bisa ntar mereka tetep hobi koplo tp juga rajin ke masjid.” Setelah dua lagu lepas, teman saya si skwitwerd *julukan_rifki memegang gitar, “ah, mematikan!”. Semua mata mulai tertuju pada kami, bahkan ada yang menawari bass untuk dipegang, ketipung juga. “wah, jadi sungkan sendiri menampilkan yang terbaik!” ^_^
       Kamipun berkata apa adanya kalau bukan ahlinya, dan si ican *julukan_M.Ali untuk jadi vokalis langsung. Lagu berjalan beberapa yg sudah dimainkan, dan mereka mulai mengandung kepercayaan kepada kami. Persiapan ini dilakukan untuk menghadapi pentas minggunya, dan semua akan naik panggung bung,,,, ^_^. Tapi malam sudah larut dan kamipun memutuskan untuk kembali dahulu, karena tugas kulsub besok pagi sudah menanti, dan harus kami jalani. Disini kita bisa mengambil pelajaran ==> dalam mengajak kebaikan ada kalanya kita harus mengajak langsung dalam kebaikan, tp adakalanya kita membuat hal-hal yang tidak berbau kebaikan menjadi berbau kebaikan. Kebaikan itu bukan karena kepastian, tapi karena niat dan juga manfaatnya kawan. Semoga setiap tindakan kita dicatat sebagai kebaikan, bahkan asololepun bisa jadi kebaikan yang sangat luar biasa. Amin… salam dari Sang Pengembala, Tyas Haryadi… ^_^
sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com