29 Dec 2011

Secarik Kertas untuk Adik

Kulihat gadis imut
Nan lugu
Nan manis
Duduk di sudut ruangan itu
     Bermain dengan apa saja
     Apa saja yang disekelilingnya
     Kadang dia tersenyum sendiri
     Kadang menangis pula secara spontan
Lalu gadis itu memegang pena
Dibolak-balik
Dibalik lagi dan lagi
Masih bingung mau dibuat apa pena itu

      Kuhampiri gadis dengan rambut ikat itu
      Seraya memelukku sambil memanggil kakak
      Kubalas pula dengan pelukan hangat
      Ku usap pula rambut

Ditunjukkan bolpoin itu padaku
Lalu ku beri secarik kertas padanya
“tulislah apa yg mau kau tulis,
Gambarlah apa yg mau kau gambar”
Ucapku

      Ku biarkan gadis kecil itu menulis takdirnya
      Dengan penanya
      Di kertasku
      Itulah kenapa ku beri secarik kertas untuk adikku
.

         Inilah sebuah puisi untuk adikku tercinta, dan semua adik di dunia, kakak punya pemikiran seperti ini. Semoga bermanfaat. Salam dari Sang Penggembala, Tyas Haryadi…. ^_^

24 Dec 2011

Jenis Kepemimpinan ala Jawa

       Ing ngandhap kados pundi lampahing para pemimpin saking ular-ularing para sarjana sujana ing jaman kina. Kula pendhetaken saking lampahan ringit purwa “Wahyu Makutharama, wahyu pikukuhing praja”, anggitan Ki Siswaharsaya. Ing lampahan ringgit purwa piwulangipun Begawan Kesawasidhi dhumateng Arjuna, ingkang mendhet piwulangipun Prabu Ramawijaya dhumateng Gunawan Wibisana, nalika sinengkakaken winisuda dados ratu ing negari Ngalengkadiraja anggentosi kalenggahanipun Prabu Dasamuka. 
Dene wijang-wijangipun kados makaten:
1.
Laku hambeging kisma : Lire tansah murah marang sapa bae kang nyuwun den murahi. Amarga kisma iku tansah ngatonake dedanane. Tanem tuwuh cecukulan minangka bogane sagung dumadi, ora liya saka wulu wetuning bantala. Sanadyan anggane pinulasara ing janma, pinaculan, dhinudhukan, parandene kisma malah ngatonake kamurahane. Mas, sesotya, pepelikan warna-warna dadya kaskayane kang mulasara.
2.
Laku hambeging tirta : Lire : tindak anorraga, lumuh ngungkul-ngungkuli, tan ngendhak gunaning janma. Jer tirta ikui tansah watak warata tur ta dayane anggung ngasrepi dadya usadaning katoran.
3.
Laku hambeging samirana : Lire : tansah naliti sanggya sasana. Tumrap lelabuhaning Nata, tansah niti priksa marang kawula dasih, suker sakit kinawruhan sarana talaten atul. jer lakuning samirana iku anggung nusupi sanggya sasana.
4.
Laku hambeging samodra : Lire : jembar miwah sabar ing panggalih. Kamot momoting panggalih, kapanduking suka kingkin sasadone ingadu manis, datan jujul datan surut lamun kataman ing sak serik sameng dumadi. Jer samodra iku sanyata anglangut tanpa tepi, Kajogan sarah prabatang miwah tirtaning narmada pira-pira, parandene ora sesak ora luber.
5.
Laku hambeging candra : Lire tansah madhangi saindenging bawana. Tumrap lelabuhaning ratu, tansah mamardi pangawikan lan kagunan marang kawula dasih sarana wulanging dwija. Sogata samurwating dununge. Kutha desa sanadyan lengkehing wukir, sadrajat sapangkat padha sinungan pamardi putra.
6.
Laku hambeging baskara : Lire : tansah aweh daya kekiyatan marang sanggya gumelaring jagad, segara nguwab dadi mendhung temah dadi udan, ora liya saka dayane raditya, Bumi mekar nuwuhake thethukulan, iya marga saka kadayang sunaring baskara. Tumrap lelabuhaning ratu, anggung paring kekiyatan marang kawula dasih. Nagkoda, nara kisma, nara karya kang kasekengan, padha antuk sihing nata minangka pawitan. Sanadyan ing tembe kudu nyaur, nanging sarana sarenti sawise ngundhuh wohing karya.
7.
Laku hambeging dahana. Lire : angrampungi. Ora ana sawiji-wiji kang ora lebur dening dahana. Tumrap lelabuhaning nata, pangwak pradata luhur. Sakabehing prakara kang konjuk ngarsa Nata, kudu rampung paripurna kang pinancas kanthi adil paramarta.
8.
Laku hambeging kartika. Hambeg kartika, uga sinebut hambeg wukir. Lire teguh santosa. Sanadyan sinerang maruta sindhung riwut, parandene bayu bajra malah piyak nganan ngering labet kasor prabawa lan adeging wukir. Tumrap lelabuhaning Nata, sabarang kang wus dhumawah, kudu tetep tumindak tan kena.

maturnuwun, mugi-mugi migunani damel sedaya, salam saking Sang Penggembala, Tyas Haryadi.... ^_^

Hari Ayah

Animasi tampang ayah.
       AYAH adalah seorang kepala keluarga, yang posisinya memang sangat urgen di dalam keluarga. Sebagai pencari nafkah, pendidik, dan juga sebagai pengambil kebijakan di sebuah keluarga. Kemarin (22/12) adalah hari ibu sedunia, yang diperingati oleh banyak orang dan seluruh penjuru bumi. Dimana ini sebagai bentuk apresiasi kepada jasa-jasa seorang ibu yang telah melahirkan setiap manusia. Lalu, muncul sebuah pertanyaan. Kenapa tidak ada hari ayah? Atau karena ayah tidak melahirkan?
       Jika menilik dari kodratnya, memang seorang ayah tidak akan bisa melahirkan seperti halnya ibu. Tetapi dari ayahlah muncul sebuah pendidikan untuk menghadapi hidup, dan kasih sayang yang memikirkan jangka panjangnya. Seperti halnya bangsa Indonesia yang sangat murah hati dan memberi apresiasi atas segala bentuk kontribusi. Tentunya para ayah di Indonesia dan juga di dunia tak akan menolak jika ada “hari Ayah”. Selain memberikan apresiasi, hal ini juga akan menaikkan semangat juang para ayah, serta kedepannya akan ada waktu pemompaan semangat para Ayah di hari itu (hari Ayah). Jadi apa salahnya kita memberikan hari Ayah?
      Ini juga kawan yang aku tulis di sebuah gagasan yg dikirimkan kesalah satu surat kabar ternama, tapi yg namanya tujuannya belum bener kali. Jadi sama Allah belum diberi kesempatan untuk tampil, semoga bermanfaat untuk semua. Salam dari Sang Penggembala, Tyas Haryadi.... ^_^  

22 Dec 2011

The Legend of Java

The Legend of Java.
       The domain of Nyi Loro Kidul, the legendary queen of the South Seas, is Parangtritis in Central Java. Her hair is green and full of shells and seaweed, and, she holds court over sea nymphs and other creatures of the deep. She is venerated and feared by the Javanese. In fact, they never wear the colour green when entering the sea for fear of offending Nyi Loro Kidul whose hair is green!. 
       ‘The legend of Nyi Roro Kidul herself is very popular. Before turning into a nymph,Nyai Roro Kidul was a young princess named Dewi Kandita, the daughter of King Mundangwangi and his first wife. The popularity of Dewi Kandita and her mother Dewi Rembulan was beyond doubt. They were known for their beauty, kindness and friendliness, and people loved them.
        However, the misery of their lives began when Dewi Mutiara, another wife of King Mundangwangi, known locally as selir, became green with envy and grew ambitions to become the first wife, thereby deserving full affection and attention from the king.
        Dewi Mutiara’s dream came true when one day she bore the son that the king had long been yearning for. Through the assistance of a witch, Dewi Mutiara made the king’s wives Dewi Rembulan and Dewi Kandita suffer from ’strange’ disease, with their bodies covered with scabies that created the odour of fish. The disease led them to be sent into exile in the forest where later Dewi Rembulan died. After a long, hard and helpless journey, the scabies-covered Dewi Kandita eventually arrived at a beach where she met a young, handsome man who promised to cure her illness.
         At the request of the young man, Dewi Kandita chased after him as he ran along the beach. When she reached the water, the man disappeared and, to her surprise, all the scabies had disappeared but, strangely, she could not move her legs. Half her body, from the waist down, had turned into the body of a fish.
Since then she became a sea-nymph, and the locals believe that Nyi Roro Kidul is the manifestation of Dewi Kandita’ by, Sang Penggembala, Tyas Haryadi... ^_^

Hari ibu, sekarang, esok, dan selamanya

22 Desember,
Bukan kali ini saja ku ingat ibu,
Yang melahirkanku, yang membuaiku dalam gendongan,
Menimang-nimang dalam ayunan, menungguku bisa berjalan.
     Ibu, aku hampir lupa akan 22 Desember,
     Bukan karena aku tak cinta akanmu ibu,
     Bukan pula karena diri ini terlalu sibuk dengan urusan sendiri,
     Apalagi tak memikirkan dirimu.
Ibu,
Masih ku ingat selimut hangat kau buat menutupi badanku di malam itu,
Tangisanmu saat melihat luka-luka ditubuhku,
Kekhawatiranmu saat ku dirantau.

      Jika Indonesia punya ibu kota,
      Kau adalah ibuku, di negaraku,
      Negara luas, dihati ini.
      Kau adalah ibu Negara disana.

Kalau bumi ini terbelah, langit akan runtuh,
Aku akan mencarimu ibu,
Anakmu ini memang tak disampingmu, tapi doaku selalu mendampingimu,
Bak angin yg berhembus sepoi tanpa terlihat.

      Kaulah wanita tercantik yang ku temui,
      Ku rindu pelukanmu,
      Ku rindu senyuman hangatmu,
     Dan ku rindu omelan mendidikmu.

Kaulah pelita, sampai nanti aku tiada,
Kaulah embun pagi, sampai berlalu berjuta pagi,
Dan aku berjanji padamu ibu,
Janji darah dagingmu, janji bayi mungilmu dulu,
Hari ibu bagiku, sekarang, esok, selamanya.
Setiap hari adalah untukmu,,,,,, ibu!



Ingatlah kawan, hari ibu itu setiap hari, bukan hanya 22 Desember. mari jadi anak yang berbakti, setiap manusia pasti lahir dari seorang ibu. semoga bermanfaat, salam dari Sang Penggembala, Tyas Haryadi.... ^_^

13 Dec 2011

Seribu Rupiah untuk Hutang Indonesia.

Seceng, seribu rupiah.
       Baru saja saya mendapat inspirasi kawan, inspirasi untuk mendapat pemasukan baru, yaitu menulis satu dua kata untuk dimuat di Koran (surat kabar). Dari teman yang sudah dapat fee, dari gagasan yang masuk ke redaksi JawaPos. Subhanallah, emang kantong akhir-akhir ini kembang kempis, jarang ngembang lebih sering ngempis. Yah, itung-itung makin banyak ibadah yang semoga dicatat malaikat rakid. Amin,,,, saya berPIKIR, kenapa saya tidak membuat GAGASAN dengan cara saya sendiri, salah satunya adalah tentang HUTANG Negara kita tercinta, INDONESIA raya, yang dibilang orang tanah subur, sampai insinyur pertanian jual bubur *lirik. Demikianlah singkat saya yang dikirim ke e-mail JawaPos, semoga saja tembus, sudah hutang 3,4 juta, belum dicicil, malah semakin nambah. Alhamdulillah, masih semakin semangat cari duit… ^_^, ni dia tentang SECENG yg berguna untuk negeri ini. -->
        HUTANG Negara Indonesia saat ini membuat masyarakat tercengang. Pemerintah melalui Kementerian Keuangan mencatat total hutang pemerintah per 31 Desember 2010 mencapai Rp 1.676 triliun. Pernah saya membaca sebuah kisah tentang banyaknya hutang Negara Cina, sehingga pemerintah menggalakan satu butir beras tiap orangnya tiap kali makan. Dan hasilnya hutang Cina pun berkurang, bahkan lunas dengan beras satu butir. Lalu kenapa kita tidak menggalakan seribu rupiah perhari untuk hutang Indonesia.
        Dalam pendataan penduduk oleh Kementerian Dalam Negeri, jumlah penduduk Indonesia terhitung 31 Desember 2010 mencapai 259.940.857. Jika setiap kepala memberikan seribu maka sehari Indonesia bisa mendapat Rp.259.940.857.000,- jika setahun? Kalikan saja 356, dan bisa jadi tidak perlu waktu lama maka hutang negeri ini akan segera tutup buku. Tentu dengan syarat terpenting, tidak dikorupsi. Efek dari uang seribu ini tidak hanya untuk menutup hutang Negeri tercinta, tetapi juga meningkatkan rasa memiliki Negeri dan Nasionalisme.
TYAS HARYADI, Mahasiswa Jurusan Teknik Informatika UIN Maliki Malang.
        Keren juga tu nama TYAS HARYADI, mampang lagi di JawaPos. Masih inget waktu SMA dulu, wajah nampang di RADAR MADIUN, senengnya orang tua oe,,, belum lagi waktu akhir SMA jg sempat masuk TV di acara jejak petualang. Sekeluarga besar mpe luangin waktu khusus buat nonton, sampai ada yg beli HP komplit TV. Ngaco sedikit tapi semoga bermanfaat kawan, salam dari Sang Penggembala. Tyas Haryadi…. ^_^
sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com