8 Apr 2012

Hanya Rakyat Jelata yang Belajar Nasionalisme

Nasionalisme dari ujung negeri.
       Rakyat-adalah status saya sekarang, kedepan, dan selama-lamanya (itulah filosofi hidup saya), agar diri ini tetap dan selalu merakyat! Walau saya bermimpi menjadi presiden Indonesia kelak (kalau targetnya sih, th 2020), tapi saya harus tetap jadi rakyat agar merakyat, mulai sekarang, kedepan, dan akan datang. Ini dia kawan, yang sulit dipikirkan dan dilakukan oleh orang-orang sekarang ~> “rendah hati, bukan rendah diri!”. Saya juga sedang belajar, sungguh saya belajar menjadi orang paling tidak punya, menjadi orang paling sederhana, dan mencoba berbagai posisi, sebanyak mungkin, sejauh mungkin. 
      Dan kali ini, saya ingin berbagi tentang satu hal, NASIONALISME. Kadang seorang rakyat seperti saya, yang masih punya KTM (kartu tanda mahasiswa). Dibilang mandiri kadang masih dikirimi, dibilang minta terus ya sesekali menghidupi diri sendiri (hitungannya bulan), yang ngerintis usaha tapi masih dalam taraf nyari tanah dan nyiapin batu pertama (logika pembangunan). Memang cukup riskan, ketika saya bilang NASIONALISME, lalu mengajak mereka (tu orang yg ketemu dg saya) untuk mencintai negeri ini. Kebanyakan mlengos (berpaling tanpa menganggap, b.jawa), tak sedikit pula yang memberi pujian (kali ini makna berlawanan, mereka mencela atw mengejek), tapi saya anggap itu adalah pujian, karena saya ingat sebuah motto kakak PRAMUKA di SMA (kriwil julukannya) ~> “anggaplah pujian sebagai kritikan dan kritikan sebagai pujian”.
        Hal saya ketahui tentang NASIONALISME hanya satu hal, yaitu rasa cinta. Banyak yang menjelaskan secara ilmiah, melalui literature-literature yg komplit, sampai dalil-dalil para manusia (bukan Rasul). Tapi nasionalisme sangatlah dekat dengan rasa cinta, yaitu cinta pada tanah air, negeri ini, INDONESIA. Dan hal itu menumbuhkan nasionalisme dalam jangka panjang, serta continue. Kawan, nasionalisme bagi rakyat jelata seperti saya ini adalah cukup sederhana, cukup melakukan terbaik yang mampu saya lakukan sekarang. Tak perlu terlalu berlebih dan kekurangan (karena yg berlebih dan kekurangan itu tak baik). Wal hasil, saya mulai dengan menanamkan, bahwa jika KTP saya, paspor saya, dan tanda pengenal lain masih WNI. Maaf, NKRI HARGA MATI!
        Lalu, saya tanamkan pada diri ini untuk cinta pada produk dalam negeri. Dalam hal ini bersifat global, produk dalam negeri ini memiliki banyak subtansi (cabang2, dan sub2, bukan sayur itu). Mulai barang dagangan (makanan minuman, pakaian, kendaraan, alat2 elektronik, dkk), lanjut ke barang hiburan (musik, film, animasi, lan sak piturute [dan lain sebagainya, b.jawa]), mengkol ke olahraga, menikuk tajam ke jodoh juga (produk dalam negeri). Sebenarnya masih banyak lagi subtansi yang lain, tapi ambil sedikit lalu amalkan, ilmu itu harus aplikatif bukan hanya jadi persepektif. Saya masih berteriak kesana-kemari tentang nasionalisme, dan belajar sedikit demi sedikit, yg kelak akan jadi samudera.
        Nah, kali ini saya ingin bercerita sedikit tentang kisah kasih hati saya dalam belajar Nasionalisme kawan. Saya mulai dengan no telp, beberapa kali saya meyakinkan diri dan kawan2, bahwa saya tak akan semuda itu untuk ganti nomor. Tetapi, setelah saya lihat, saya pilah dan pilih, hanya Telkom dan Telkomsel yg merupakan kepemilikan dalam negeri (walau tak 100%, minimal sahamnya maksimal di Indonesia) apalagi ini BUMN. Walhasil saya ganti nomor, mendapat protes, dukungan, dan lain sebagainya. Saya mulai sadar, seberapa nasionalisme itu memang sudah mulai berkurang di Negeri ini, bahkan mulai hilang tanpa bekas kawan. Terbaru, saya juga membeli sebuah kaos, sepatu, kaoskaki, sampai tas karier, juga mencari yang made in Indonesia. Yang paling menyita perhatian adalah baju merah putih, Indonesia, baju yang dipakai p. Andi Malaraeng (MENPORA). Baju itu beberapa kali saya buat kuliah, dan kawan2 sampai dosenpun juga komentar tentang kostum ini. Satu hal kawan, mereka mengakui seberapa dibutuhkan Nasionalisme, rasa cinta akan negeri ini!
        Saya memang belum tahu zaman dahulu seperti apa, tapi ketika Indonesia meredeka, sebenarnya kita punya ideologi dan nasionalisme yang tinggi. Dapat dilihat dr pengakuan bangsa-bangsa lain dan beberapa pimpinan memiliki peran penting dalam dunia internasional. Terbaru saya mendengarkan MP3, tentang pidato-pidato yang membakar nasionalisme dari Bung Karno. Sesuatu yang sangat jarang dilakukan para pemimpinan negeri ini, sungguh sangat ironis. Maka, marilah belajar nasionalisme, dari hal kecil yaitu cinta. Begitulah kami rakyat jelata yang belajar nasionalisme. Semoga bermanfaat, salam dari Sang Penggembala, Tyas Haryadi…. ^_^

6 Apr 2012

Arti dan Manfaat (pemaknaan sebuah puisi)

       Wahai kawanku nan budiman (walau nama kalian bukan budi), banyak orang yang membaca puisi, tak tak semua orang memahami, banyak orang bicara sajak, tapi tak semua manusia paham apa itu sajak. Itulah pujangga, mereka berpikir luas, dalam, tapi membiarkan orang lain mengambil makna semampunya (senyampenya bahasa mudanya). Seperti itu pula ketika saya membuat puisi nan benar-benar dari hati, sebagian memaknai hanya kandungan kasarnya, bukan kandungan dalamnya. Satu hal yang saya ingatkan untuk teman-teman, membaca puisi itu hikmahi dengan hati, tak hanya dengan otak. Seperti puisi saya kali ini, yang berjudul “Arti dan Manfaat” semoga benar2 berarti dan bermanfaat (niatan dari hati) ^_^….

wahai mahluk berhati,
wahai mahluk bernafsu,
wahai mahluk berakal,
semua ucapmu tentang kata, apakah kata hati?
yg di mengerti, mengandung hikmah,
banyak homo sapiens yg maknai,
sampai kapan?
sampai tak bertemu mentari, sampai mati, sampai bertemu dengan Illahi....
semua hanya tentang arti dan manfaat,
seberapa berarti dan menjadi mulia karena manfaat....
*puisi jumat mubarok dari Sang Penggembala,,,, :)

        Puisi diatas tujuannnya adalah untuk para manusia, sebagai mahluk berhati, tapi tak terlalu memakai hatinya, yang bernafsu, dan terlalu mengumbar nafsunya, yang berakal tapi malah pandai mengakali kebenaran dan orang lain. Sungguh, yang saya maksud adalah kata (ucapan) adalah hal yang sangat urgen, sangat penting. Karena semua berawal dari kata, dan “mulutmu itu hariamumu” <~ iklan produk dalam negeri. Kata ibu saya “lidah tak bertulang, ngomong ora kulakan (bicara tidak beli bahan baku)”. Apakah ucapan itu sudah dari hati, hati itu bisa jadi bisikan syetan, tapi terbesar adalah fitroh kita nan suci. Sudahkah kata2 kita itu di mengerti, sudahkah kata-kata kita itu mengandung hikmah, banyak manusia yang mampu memaknai dan mengamalkan? 
       Lalu saya bertanya, sudah puasakah anda? (dengan kalimat “sampai kapan?”) sampai kita tak berjumpa sinar matahari, sampai mati dan sampai bertemu illahi (kiamat), karena semua yg kita bagi masih berarti sampai sekarang dan akhir zaman kelak. Lalu, seberapa berarti, dan seberapa bermnfaat (ingat khoirrunnas anfauhum linnas = sebaik2 manusia adalah yg bermanfaat bagi yg lain). Intinya mampu memberi arti dan bermanfaat bagi yang lain. Semoga bermanfaat kawan, salam dari Sang Penggembala, Tyas Haryadi…. ^_^

Maaf dan Terimakasih untukmu Ibu Bapak

Ibu dan Bapak. (imajinasi)
"ibu bapak masih selalu mengkhawatirkan anaknya ketika anaknya sudah berkeluarga sekalipun."
"ibu bapak masih bertanya akan kebiasaan anaknya, walau anaknya sudah bercucu!"
"dan hanya ibu dan bapak, selalu memberi apapun, sampai nyawanyapun rela diberikan kepada anaknya!"
"tapi, anak tak pernah berpikir untuk membuat orangtuanya tersenyum, berterimakasih dan mohon maaf setiap saat, lebih parah, ingatnya hanya waktu ada perlu!"
"alhamdulillah, sekarang anak selalu perlu kepada orangtua, karena di ibu bapaklah ridho orang Allah hadir, masihkah qt tak ingat orang tua."
"yang dekat orangtua, cium tangan kedua ortu, minta maaf, ucapkan terimakasih."
"yang jauh, angkat hp, telefon, g'ada pulsa? puasa buat besok! ortu sering puasa untuk anaknya. kenapa anaknya tak mau puasa demi telfon ortunya?"
"ingat luasmu sebelum sempitmu, ingat sehatmu sebelum sakitmu, ingat hidupmu sebelum matimu!"
"dikala qt dipenjara mungkin tak bisa bersua dg ortu tiap saat, ketika koma tak ada senyum dan cium tangan untuk beliau berdua, dan jika kita mati ortu yang akan ingat selalu dengan anaknya, akankah qt seingat itu kepada ortu ketika beliau meninggal kelak?"
"dan jika beliau berdua sudah tiada, tak ada penyesalan, doa qt kita masih berguna, amal qt atas nama beliau, dan jadi ayah/ibu yg baik untuk anak kita (baik sekarang atau kelak)!"
"semua orang terlahir dari seorang ibu dan seorang bapak, dan kita kelak juga jd seorang ibu atau seorang bapak."
#ibu bapak, maafkan kami anak2mu, terimakasih atas segalanya.... :')
        Ini dia kawan, sedikit curahan hati di FB sy. Sebenarnya ini bukan kenapa2, tapi karena dahulunya aku ingat, betapa diri ini terlalu melupankan betapa baiknya orangtua. Diri ini juga sering mengabaikan, mencari senyum orangtua, terlalu sibuk dengan diri sendiri, terlalu sibuk dengan mimpi-mimpi. Padahal yang diingin orang tua tak banyak, hanya ingin melihat dan mendengar kita bercerita dengan berapi-api tentang mimpi-mimpi kita. Lalu mereka berdua akan mendoakan semaksimal mungkin, walau tak terlalu paham dan mengerti sekalipun, beliau berdua tetap mendukung. Sejauh apa kita berkontribusi kepada orangtua kawan? Tak perlu memberi banyak, mulai saja dengan menyisihkan waktu, berterimakasih, minta maaf dan membuat senyum simpul dibibir keduanya.
        Satu lagi yang akan selalu aku ingatkan, anak kita kelak (yg belum punya anak) akan seperti kita. Mari sayangi ortu, karena Ridho Allah ada di ridho kedua orangtua dan murka Allah ada dimurka kedua Orangtua. Kita kelak juga jadi orangtua, pikirkan saat itu, saat kita berada diposisi orangtua, dan anaknya seperti kita sekarang! Bagaimana perasaan qt? itulah kurang lebih perasaan orangtua, walau bisa jadi orangtua kita lebih sabar dan lebih bijak. Semoga bermanfaat kawan (netesin air beneran gw)…. Barokallah ibu bapak tercinta, salam dari Sang Penggembala. Tyas Haryadi…. ^_^

5 Apr 2012

Vertical Garden, solusi lahan minim

Masuk Gagasan di Jawa pos.
       TAMAN-mungkin menjadi hal yang sangat langka bagi mereka yang tinggal didaerah perkotaan, berbeda dengan yang tinggal di pedesaan, karena relatif memiliki halaman luas. Apalagi mereka yang tinggal di pemukiman padat penduduk, rumah susun, apartemen, atau perumahan yang sempit tentu akan kesulitan memiliki taman. Mengingat, pentingnya dalam rumah memiliki taman atau tanaman hijau sebagai sirkulasi udara dan penyedia oksigen bagi manusia. Maka, dewasa ini tentu Vertical Garden bisa menjadi solusi cerdasnya.
        Kenapa harus Vertical Garden? Karena taman jenis ini tidaklah terlalu membutuhkan tempat yang luas. Karena memang memanfaatkan media yang meninggi, dan bisa menggunakan bahan-bahan sederhana, seperti bambu, pipa paralon, dan juga botol minuman. Selain sederhana bahannya, perawatannya juga tidak ribet, air yang digunakan untuk menyirami jika berlebih akan turun langsung ke tanaman dibawahnya, begitu seterusnya. Dalam hal lain, taman ini bisa dipindah-pindah tempat tanpa kesulitan. Yang terpenting lagi, taman ini tidak harus berada diluar rumah, karena jenis tanamannya memang tidak terlalu membutuhkan sinar matahari. Jadi, sekarang punya rumah dikota yang sempit juga bisa punya taman yang hijau.
TYAS HARYADI, Jurusan Teknik Informatika UIN Maliki Malang.
 
        Tulisan inilah kawan yang terpampang dalam Gagasan di Halaman Koran harian Jawapos pada tanggal 03-04-2012. Dengan ilustrasi kencing ditoilet serasa kencing disemak belukar. Yups, inilah tulisan pertama saya yang tembus di Koran tingkat nasional kawan, terbesar di Indonesia (saat ini). Sekaligus duit aliran pertama dari sebuah sumber media cetak (Koran) untuk saya, tingkat nasional pula. Sebenarnya ide ini saya dapat sewaktu mewawancarai mahasiswa Arsitektur di kampus, dimana saya jadi reporter sebuah Majalah kampus di UIN Maliki Malang (yaitu GEMA). Dari dialog dengan beberapa mahasiswa itulah saya mulai memahami plus minusnya vertical garden. Namanya mahasiswa kawan, mereka terlalu asyik dengan dunia kemanjaannya (dimanja tugas, dimanja malas, dimanja galau dan dimanja kiriman orangtua). Terkadang membuat pikiran menjadi tidak terbuka, bahkan terkesan mati suri tak berarti dan tak memberi kontribusi.
        Inilah tujuan utama kenapa saya berjuang menembuskan tulisan ketingkat nasional, agar semua sadar, bahwa mahasiswa itu sudah waktunya untuk berpikir tentang karya. Jangan Cuma galau dan cinta, galau dan cinta itu boleh, tapi galau dan cinta yang menghasilkan karya. Bukan Cuma bakat yang terpenting. Tetapi ada yang lebih penting pula, yaitu sebuah kemauan serta niat nan ikhlas! Jangan kelamaan mikir, karena pikiran tanpa dituliskan atau disampaikan = kentut yang tak bau, hanya bermanfaat sedikit perkembangan untuk berpikir lebih lagi. Untuk kali ini yang ingin saya sampai adalah “MARI BERKARYA” ^_^ | semoga bermanfaat, salam dari Sang Penggembala, Tyas Haryadi…. ^_^

2 Apr 2012

Adik Bagiku

Anak,
Ibu,
Bapak,
Satu satu, dua dua, tiga tiga, sayang adik kakak
     Akupun punya adik,
     Dia wanita nan jelita,
     Bidadari kecil, imut, memikat mata, membuat tertaut dihati,
     Dialah adikku, yang kusayang yang kucinta.
Allah masih segala,
Rasulullah selanjutnya,
Orangtua yang utama,
Dan adikku, sekarang jadi posisi selanjutnya.
      Dimatanya kulihat mataku,
      Karena sikap selalu meniru sikapku,
      Apa katanya masih dan terus bercermin dari apa kataku,
      Sekarang dia adikku, tapi dengannya aku berlajar mendidik anakku.
Pagi kubangunkan, walau sulit untuk bangun, seperti ku dulu.
Dia konyol, terkadang melebihi kekonyolanku.
Malam kurelakan sholat jama’ah dimasjidku hilang, untuk sholat berdua dengannya.
Ku ajari baca alif-alifan, walau aku juga baru belajar.
      Ku kecup keningnya tanda sayangku,
      Kadang ku jitak jidatnya, juga rasa sayangku,
      Kudiamkan dia, ku buat dia menangis, masih dengan rasa sayangku,
      Apa yg diminta akan kuberi, tapi jika itu melawan azas kejujuran, maaf!
      Itupun masih karena rasa sayangku.
Di KK ku punya satu adik,
Tapi, semua yg lebih muda dariku adalah adikku,
Bagiku adik bukan sekedar status, tapi gelar sacral.
Bagiku adik tak harus akrab dengan perintah, tapi selalu ternaung kasih sayang.
Bagiku adik jangan lembek, sesekali harus dikerasi, agar dia punya jatidiri dan mandiri.
Dan adikku harus tahu agama, berbakti pada orangtua, dan memegang kejujuran.
Inilah adik, adik, dan adik bagiku….


Wahai kawan, tentu kita pernah memanggil nama adik. Entah itu adik sendiri, atau adik orang lain. Puisi kali ini adalah persepektif adik bagiku, dengan emosional hatiku, dan biarkan imajinasimu serta hatimu memiliki penafsirannya sendiri setelah membacanya. Semoga bermanfaat, saya masih pujangga yang tak lekang oleh waktu, tak mau kalah oleh arus, tak mau roboh oleh badai, dan tak mau takabur dari bujuk rayu setan. Salam dari Sang Penggembala, Tyas Haryadi…. ^_^

1 Apr 2012

Kantin kejujuran untuk anak usia dini

KUA (kantin Ulul Albab)
       JUJUR-adalah sebuah kata sederhana yang memiliki nilai dan makna luar biasa. Sayang sekarang ini kejujuran sudah mulai dilupakan, dan menjadi sangat mahal harganya sehingga jarang ditemui. Mulai dari ujian akhir sekolah, ulangan harian, ujian skripsi, sampai para pemimpin yang akhir-akhir ini sangat suka bohong. Hal ini tentu menjadi cerminan seberapa buruk karakter masyarakat Indonesia saat ini.
        Ketika saya dan beberapa teman membuat kantin kejujuran dikampus, kami beri nama KUA (kantin ulul albab), sesuai motto kampus kami menciptakan generasi yang ulul albab. Namun dari hari ke hari semakin banyak saja kerugian yang dialami, mungkin memang dari kecil belum belajar untuk jujur. Seperti kata pepatah, “menulis diatas air itu mudah tetapi cepat hilang, berbeda menulis diatas batu, sulit tapi tak akan hilang.” Ini pula yang membuat kami berpikir kenapa tidak membuat kantin kejujuran untuk anak-anak usia dini? Anak-anak memiliki jiwa yang bisa menerima segala hal, sehingga akan sangat menerima pembelajaran kejujuran ini. Tentu dengan harapan 20 tahun lagi, anak-anak usia dini ini akan menjadi pemimpin negeri ini selanjutnya, dan semoga mereka masih ingat tentang pembelajaran kejujuran diwaktu kecilnya.
        TYAS HARYADI, Mahasiswa Jurusan Teknik Informatika UIN Maliki Malang. Sang Penggembala, semoga bermanfaat kawan. Sekedar info, gagasan dan opini ini sebenarnya adalah karya saya yang dikirim ke redaksi surat kabar macam jawapos, kompas, macam macam lah (sebenarnya baru dua itu saja). Kalau tidak tembus ya disini tempatnya, karena dengan media surat kabar, ide ikhlas itu akan lebih banyak orang yg membaca. Tak apa, semua harus disyukuri "Alhamdulillah", the power of istiqomah pokoknya. semoga bermanfaat... ^_^
sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com